VISI | Kiai: Dari Ladang ke Layar, dari Nadoman ke Narsisman

ED
Kamis, 10 April 2025 | 06:39 WIB
Bagikan
VISI | Kiai: Dari Ladang ke Layar, dari Nadoman ke Narsisman

Kiai zaman dulu itu seperti mata air: tenang, jernih, tapi menyegarkan banyak orang. Sekarang, sebagian malah seperti air galon isi ulang: warnanya sama, rasanya beda, dan kadang kadaluarsa.

Dulu, kiai bisa membuat masyarakat nurut hanya dengan isyarat tangan. Hari ini, kadang kiai harus bikin giveaway kitab digital agar jamaah mau ikut pengajian daring. Ada yang bilang, itu adaptasi zaman. Padahal sedang terjadi “transisi kultural yang agak tergelincir.”

Yang bikin Hawe Setiawan prihatin adalah makin sedikit kiai yang mau menulis dalam bahasa lokal atau Arab Pegon. Padahal itu jembatan penting antara syariat dan budaya. Sekarang, banyak yang lebih suka bikin konten ceramah clickbait dengan judul “10 Ciri Orang Dijamin Masuk Surga (Nomor 7 Mengejutkan!)”

Para kiai zaman dulu sadar bahwa nadoman dan seni Sunda bisa menjadi media dakwah yang lembut tapi tajam. Nadoman tentang tajwid, nahwu sharaf, wudu, akhlak, sampai etika bertetangga jadi semacam “rap islami” yang dirapal anak-anak kampung. Sekarang? Anak-anak lebih hafal lirik lagu TikTok daripada nadoman tentang tajwid.

Masyarakat dulu tunduk pada kiai karena keteladanan. Kiai tidak hidup mewah, rumahnya sederhana, bajunya itu-itu saja, dan sandal jepitnya sering hilang di masjid. Tapi dari situ, terlihat bahwa kiai bukan sedang “miskin”, tapi sedang memiskinkan diri dari duniawi.

Sekarang, ada sebagian kiai yang justru menampilkan kekayaan secara terang-terangan: mobil mewah, jam tangan bling-bling, dan gaya hidup yang lebih cocok untuk selebritas. Jika ditanya, jawabannya “biar jamaah semangat ibadah dan sedekah.” Aamiin, semoga.

Kita menyayangkan bahwa kultur kepemimpinan kiai yang mengakar pada kebijaksanaan, kesederhanaan, dan keilmuan pelan-pelan mulai bergeser ke arah popularitas, kekuasaan, dan kemasan. Dulu kiai ngajari cara menanam padi dengan iman, sekarang ada yang malah menanam opini di media sosial demi monetisasi.

Tapi tentu tidak semua kiai begitu. Masih banyak kiai-kiai kampung yang tetap setia di saung, mengajarkan tajwid dengan sabar, menulis dalam diam, dan memikirkan cara menghidupkan ekonomi warga. Mereka ini yang perlu diangkat, bukan cuma yang punya satu juta subscriber.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.