VISI | Kiai: Dari Ladang ke Layar, dari Nadoman ke Narsisman
Oleh Aep S. Abdullah
DULU, kalau kita mendengar kata "kiai", yang terbayang adalah sosok bersarung, duduk di bale-bale bambu, dengan kitab kuning di tangan, dan aura yang bikin anak kecil otomatis merapatkan kaki. Sekarang? Kiai bisa muncul di TikTok dengan filter kuping kelinci, ceramah lima menit disisipi sponsor madu Arab dan jasa travel umrah.
Dalam obrolan santai dengan Hawe Setiawan—pengurus Lesbumi Jabar yang juga dikenal sebagai peneliti budaya Sunda—terungkap hal menarik: para kiai dulu ternyata bukan cuma ahli fiqih, tapi juga praktisi pertanian, ekonom kampung, seniman nadoman, dan penulis produktif dalam bahasa Arab Pegon. Iya, Arab Pegon, bukan Arab Pegonitas seperti sekarang.
Bayangkan, seorang kiai di masa lalu bisa menulis kitab tentang cara bercocok tanam yang baik menurut cuaca dan arah angin, disisipi doa-doa agar panen tidak diserbu walang sangit. Semacam agronom tapi dengan tasbih dan surban. Dan semuanya ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab. Sangat visioner.
Para kiai dulu tidak sibuk mengejar viralitas, melainkan kemaslahatan. Mereka tidak peduli follower count, tapi peduli soal jumlah warga yang bisa baca Al-Fatihah dengan makhraj yang benar. Mereka juga tak neko-neko. Kalau mau jadi panutan, ya cukup dengan akhlak, bukan akal-akalan algoritma.
Kang Hawe bilang, ia sedang mengumpulkan dan meneliti ternyata banyak dari mereka menghasilkan karya tulis yang sekarang malah kita anggap “kuno”, padahal isinya sangat relevan. Misalnya, panduan usaha kecil-kecilan yang diramu dengan prinsip syariah dan kearifan lokal. Sekarang? Banyak kiai malah jadi duta investasi bodong, subhanallah.
Apa yang membuat para kiai dulu begitu dihormati? Salah satunya, karena mereka menjauh dari kekuasaan dan politik praktis, apalagi terjun pada bidang pertambangan. Jauh sekali. Mereka tahu, jika kiai ikut cawe-cawe politik, kharisma bisa berubah jadi karisma kosmetik: luar biasa glowing, tapi dalamnya kosong.
Bahkan, dulu jika ada kiai ke kota, orang-orang akan berdiri di pinggir jalan hanya untuk melihat sekelebat wajahnya. Sekarang, beberapa kiai malah lebih sering terlihat di layar video daripada di pesantren. Kalau bisa, setiap hari harus muncul wajahnya. Kurang satu video, kurang berkah!
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!