VISI | Ketika Kreativitas Dibungkam
Oleh Drajat
KREATIVITAS adalah anugerah. Ia tumbuh dalam ruang bebas dan berkembang dalam iklim yang penuh penerimaan. Sayangnya, dalam perjalanan panjang pendidikan kita, kreativitas justru seringkali dibungkam sejak dini. Penulis akan menyampaikan apa yang dialami, rasakan, dan diperjuangkan sebagai seorang pendidik dan penulis yang tak pernah lelah menggenggam asa.
Penulis ceritakan anak penulis sendiri. Ya, ia mengenal dunia sekolah sejak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, atau lebih tepatnya, PAUD. Masa itu adalah masa paling merdeka dalam hidupnya. Mereka menari, bernyanyi, berlarian, bermain pasir, menyusun balok, membuat cerita liar tentang dinosaurus yang bisa menyanyi atau mobil yang bisa terbang ke bulan. Tak ada yang menertawakan. Tak ada yang menyuruh diam atau duduk manis. Semua ekspresi dianggap sah. Semua kreasi disambut dengan tepuk tangan. Dunia seperti taman bermain tak bertepi, dunia adalah milik mereka!
Namun semuanya berubah ketika mereka memasuki Sekolah Dasar. Duduk harus rapi. Bicara harus pelan. Bergerak terlalu banyak akan diperingatkan. Tertawa keras bisa dihukum berdiri. Berimajinasi dianggap berkhayal. Kreativitas seperti seekor burung yang sayapnya dipotong satu per satu. Dari hari ke hari, mereka merasa tak lagi bisa mengekspresikan ide liar seperti dahulu. Padahal usia mereka masih sangat muda. Seharusnya sekolah menjadi jembatan dari dunia PAUD ke dunia pembelajaran yang lebih sistematis, tanpa menghilangkan jati diri dan spontanitas anak.
Sayangnya, pengalaman itu bukan milik anak penuili seorang. Penulis melihat banyak anak yang awalnya sangat ekspresif di TK berubah menjadi murung di SD. Mereka lebih banyak diam, lebih takut salah, lebih ragu mencoba. Bukankah ini kerugian besar dalam dunia pendidikan kita? Satu demi satu, tunas-tunas kreatif yang mestinya tumbuh subur malah dipotong dengan aturan dan ancaman yang tidak perlu. Termasuk penulis sendiri merasakan saat di SD, maaf tidak mengalami TK!
Beranjak dewasa, anak penulis tumbuh dengan dunianya. Sempat ngadat tidak mau sekolah di SMP kelas 8, karena sudah bisa berbisnis. Demikian juga di SMA, ia asyik dengan dunianya, sampai gurunya mengatakan, “Anak Bapak, tidak kuliah juga insyaAllah akan berhasil”! Bagaimana dengan kuliahnya? Ia begitu bangga memilih PT yang nyaris tak terdengar, namun justru dia menemukan jati dirinya, sampai disarankan untuk kembali ke PT yang ia tinggalkan. Demikian juga menolak secara halus beasiswa yang sudah di tangan!
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!