VISI | Ketika Kreativitas Dibungkam
Bagaimana dengan penulis sendiri? Ya, penulis menemukan kembali dunia yang penulis cintai: dunia menulis. Di sinilah penulis kembali bisa berteriak tanpa harus takut dimarahi, bisa menari dengan kata-kata tanpa perlu izin, bisa marah, tertawa, menyentil dan bahkan menyindir dengan elegan. Tapi, ternyata dunia dewasa pun tak lebih ramah. Tulisan penulis sering kali membuat sebagian orang "tidak nyaman". Beberapa tulisan mendapat respons luar biasa, tapi tak jarang pula memantik amarah dari mereka yang merasa tersindir.
Penulis pernah diintimidasi, ditelepon oleh pejabat pendidikan yang menyuruh berhenti menulis. Pernah juga dicap sebagai pengganggu sistem, bahkan ditakut-takuti akan dipindah atau dihambat dalam karier. Tapi sungguh, bagi penulis menulis adalah jalan hidup. Kreativitas tidak bisa dibunuh. Semakin ditekan, semakin ia memberontak. Semakin dibungkam, semakin deras ia mengalir. Setiap ancaman justru memunculkan ide-ide baru. Setiap batasan melahirkan gaya baru.
Penulis tidak membenci sistem, juga tidak membenci para pemangku kebijakan. Penulis percaya, sebagian besar mereka pun memulai karier dari ruang kelas yang sempit dan kursi kayu reyot. Tapi penulis ingin mereka tahu: anak-anak kita butuh ruang. Mereka bukan kertas kosong yang siap dicetak seragam. Mereka pelukis-pelukis kecil yang ingin menggambar dunia dengan warna mereka sendiri.
Kreativitas bukan ancaman. Ia adalah kekuatan bangsa. Negara-negara maju tidak akan bisa melompat jauh tanpa para pemimpi, para pembuat terobosan, para penulis, penemu, dan pemikir liar. Maka, mari kita rawat kreativitas sejak dini. Jangan biarkan guru menjadi pemadam api imajinasi. Jangan biarkan sekolah menjadi penjara ide.
Penulis terus menulis, bukan berarti penulis hebat. Tapi penulis tahu, tulisan ini adalah suara dari ruang-ruang yang tak terdengar. Dari anak-anak yang ingin tertawa lepas. Dari siswa yang ingin membuat robot dari kardus bekas. Dari guru-guru yang ingin mengajar dengan cara yang berbeda. Bisa jadi penulis menulis untuk mereka. Dan selama penulis masih bisa menulis, tidak akan berhenti. Karena kreativitas, seperti air, akan selalu mencari jalan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!