VISI | Ketika Guru Menjadi Beban Negara!
Di sinilah paradoksnya: dana pendidikan besar, tetapi kesejahteraan guru justru masih jauh dari layak. Sementara itu, ketika bicara efisiensi anggaran, jari telunjuk diarahkan ke guru dan dosen. Padahal, seharusnya yang dikoreksi adalah distribusi anggaran yang tidak merata, kebocoran program, hingga proyek-proyek pendidikan yang lebih banyak menguntungkan vendor daripada murid.
Bagaimana bisa guru disebut beban, sementara mereka tetap setia mengajar di ruang-ruang kelas berdinding bambu, dengan gaji pas-pasan, bahkan kadang terlambat dibayar? Bukankah justru mereka yang menanggung beban negara ini dengan dedikasi dan pengorbanannya?
Kualitas sebuah bangsa dapat diukur dari bagaimana ia memperlakukan gurunya. Finlandia, misalnya, menaruh guru pada posisi yang sangat tinggi dalam hierarki sosial. Seorang guru dipandang sejajar dengan dokter dan insinyur. Tak heran, Finlandia menjadi salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.
Sebaliknya, di Indonesia, masih ada sebagian elit yang memandang guru sebagai beban. Pernyataan semacam ini menggambarkan betapa dangkalnya cara pandang terhadap profesi pendidik. Jika guru terus dicitrakan sebagai beban, jangan heran jika generasi muda enggan menekuni profesi ini.
Meski kerap tersakiti oleh kebijakan yang tidak berpihak, guru tetap berdiri tegak. Mereka hadir setiap pagi di kelas, menyambut anak-anak dengan senyum, meski dalam hati ada getir. Mereka terus menyalakan pelita pengetahuan, meski pelita itu kadang hampir padam karena keterbatasan.
Guru tidak berhenti di ruang kelas. Mereka hadir dalam kehidupan sosial, menjadi teladan, motivator, bahkan problem solver di tengah masyarakat. Guru adalah ujung tombak literasi, garda terdepan membangun karakter, dan agen perubahan di akar rumput.
Jika ada yang pantas disebut beban, maka bukanlah guru, melainkan mereka yang gagal mengelola anggaran, mereka yang korupsi dana pendidikan, dan mereka yang menjadikan pendidikan sebagai proyek politik.
Pernyataan bahwa guru adalah beban negara seharusnya menjadi refleksi bersama, bukan sekadar memicu polemik. Refleksi itu mengajak kita bertanya: sudahkah bangsa ini benar-benar menempatkan pendidikan sebagai prioritas? Sudahkah negara hadir dengan kebijakan yang memuliakan guru?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!