VISI | Kesiapan Belajar Awal Semester, Tepatkah?
Namun, dalam praktik pendidikan, pemahaman kesiapan belajar masih banyak dipengaruhi oleh teori konvensional. Teori konvensional kesiapan belajar berakar kuat pada konsep kematangan biologis dan mental (maturation) sebagai prasyarat utama sebelum pembelajaran dapat berlangsung efektif. Pandangan ini dapat ditelusuri pada pemikiran Edward Thorndike melalui Law of Readiness dan Jean Piaget melalui tahapan perkembangan kognitif.
Dalam kerangka teori konvensional, kesiapan belajar ditandai oleh beberapa ciri utama. Pertama, kematangan fisik dan mental dipandang sebagai kunci. Seorang anak dianggap siap belajar apabila telah mencapai tingkat perkembangan tertentu secara alami. Kedua, fokus pada tahapan perkembangan. Pembelajaran harus disesuaikan dengan tahap kognitif siswa, seperti tahap operasional konkret atau formal. Ketiga, pengalaman belajar sebelumnya menjadi prasyarat penting. Pengetahuan awal (prior knowledge) sangat memengaruhi keberhasilan pembelajaran selanjutnya.
Selain itu, teori konvensional memandang kesiapan belajar sebagai kondisi internal yang mendahului pembelajaran. Kondisi fisik, kesehatan mental, stabilitas emosional, serta motivasi dan kebutuhan siswa menjadi faktor penentu apakah pembelajaran dapat berlangsung optimal atau tidak. Jika kondisi tersebut belum terpenuhi, proses belajar dianggap belum efektif.
Pandangan ini kemudian melahirkan model pengajaran yang bersifat teacher-centered. Guru menentukan apa yang akan dipelajari dan kapan siswa dianggap siap menerimanya. Guru berperan sebagai sumber utama pengetahuan, sementara siswa ditempatkan sebagai penerima pasif. Kesiapan belajar dipahami sebagai sesuatu yang harus “dipenuhi terlebih dahulu” sebelum pembelajaran dimulai.
Tantangannya, pendekatan semacam ini sering mengabaikan dimensi relasional dan makna personal belajar. Kesiapan tidak lagi dilihat sebagai proses yang bisa dibangun bersama, melainkan kondisi yang dinilai secara sepihak. Padahal, dalam konteks pendidikan hari ini, kesiapan belajar justru perlu diciptakan melalui interaksi, empati, dan pengalaman belajar yang bermakna sejak hari pertama.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!