VISI | Kesiapan Belajar Awal Semester, Tepatkah?

ED
Jumat, 9 Januari 2026 | 04:22 WIB
Bagikan
VISI | Kesiapan Belajar Awal Semester, Tepatkah?

Oleh A. Rusdiana

  • Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
  • Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
  • Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
  • Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan 

MEMASUKI tahun pelajaran semester genap 2025/2026, suasana pagi di Tatar Priangan kembali diwarnai langkah-langkah kecil menuju sekolah dan madrasah. Kabut tipis di kaki gunung, gemericik air sawah, serta hawa sejuk yang menyelimuti desa-desa seolah menjadi saksi dimulainya babak baru perjalanan belajar para peserta didik. Dari Priangan, pendidikan tumbuh bukan semata dari ruang kelas, melainkan dari harmoni alam, budaya, dan nilai kebersamaan yang telah lama menjadi ruh kehidupan masyarakatnya.

Di awal semester, perhatian sering tersedot pada target kurikulum, ketuntasan materi, dan agenda akademik. Padahal, yang lebih mendasar justru kesiapan belajar. Bukan materi yang utama di awal semester, melainkan kesiapan belajar. Dari sanalah kelas dapat tumbuh menjadi ruang harapan bersama. Hari-hari pertama pembelajaran bukan sekadar pembuka administrasi, melainkan fondasi psikologis dan spiritual yang menentukan kualitas proses belajar selama satu semester ke depan.

Pada fase ini, guru tidak hanya dituntut menyusun rencana pembelajaran, tetapi juga menyiapkan ruang aman bagi peserta didik untuk kembali menata diri. Pendekatan humanis sejak hari pertama melalui dialog, pengenalan, dan penguatan relasi membantu siswa beradaptasi, merasa dihargai, dan menemukan kembali makna belajar. Inilah momen ketika sekolah seharusnya menyapa, bukan menekan; merangkul, bukan sekadar menilai.

Dalam perspektif teori kesiapan belajar (learning readiness), kesiapan siswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan kognitif. Ia mencakup kondisi emosional, relasi sosial, serta makna personal terhadap proses belajar. Karena itu, kesiapan belajar perlu didesain ulang: dari sekadar “siap menerima materi” menjadi “siap tumbuh sebagai pembelajar”. Pendidikan tidak boleh berhenti pada penguasaan konten, tetapi harus menghidupkan kesadaran belajar sepanjang hayat.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.