VISI | Karakter
Oleh Aep S Abdullah
- "Peradaban bangsa diukur dari karakternya"
Mahatma Gandhi
PARA guru di sekolah telah melakukan tugas berat dalam memberikan pendidikan karakter kepada siswa. Setiap hari, mereka mengajarkan nilai-nilai luhur seperti jujur, santun, dan saling menghormati. Namun ironisnya, di luar lingkungan sekolah, siswa justru menyaksikan perilaku para tokoh panutan bangsa yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Melalui media sosial, mereka melihat contoh ketidakjujuran, kemunafikan, dan sikap tanpa malu yang dipertontonkan tanpa rasa tanggung jawab.
Sebagai contoh, seorang siswa yang diajarkan bahwa "kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja" mungkin bingung ketika melihat seseorang dengan pengaruh besar dapat lolos dari kebohongan atau tindak tidak etis tanpa hukuman. Di sini, filosofi Aristoteles menjadi relevan: "Kebajikan adalah kebiasaan, bukan tindakan. Kebiasaan ini dibentuk dari contoh." Jika contoh yang diberikan adalah perilaku buruk, kebiasaan buruklah yang akan terbentuk.
Anekdot dari seorang guru menambah kesadaran kita ini: "Saya pernah memberi tahu siswa bahwa gotong royong adalah ciri bangsa kita. Tapi suatu hari, salah satu dari mereka bertanya, 'Kalau begitu, kenapa orang-orang terkenal sering hanya peduli pada dirinya sendiri di berita?' Saya terdiam." Guru tersebut benar-benar menggambarkan dilema antara pendidikan formal dan realitas.
Dalam situasi ini, negara harus memainkan peran penting. Regulasi perlu diterapkan untuk memastikan bahwa perilaku tidak etis dari tokoh publik mendapat sanksi tegas. Sebagai analogi, seperti halnya seorang anak dimarahi jika melanggar aturan rumah, demikian pula tokoh masyarakat harus mendapat konsekuensi atas pelanggaran etika. Hal ini mengingatkan kita pada perkataan Immanuel Kant: "Hukum tanpa moral adalah kosong, moral tanpa hukum adalah buta."
Humor juga bisa menjadi alat untuk menyadarkan masyarakat. Seorang komedian pernah berkata, "Kalau tidak malu sama Tuhan, paling tidak malulah sama followers-mu di Instagram." Ini adalah cara ringan untuk menyoroti bagaimana media sosial sebenarnya dapat digunakan untuk menegakkan tanggung jawab sosial.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!