Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026

VISI | Head To Head

ED
Kamis, 12 Juni 2025 | 06:53 WIB
Bagikan
VISI | Head To Head

Oleh Drajat

SALAH satu ciri peradaban yang maju adanya budaya dialog dan diskusi yang sehat. Dalam dunia pendidikan, budaya diskusi ilmiah seharusnya menjadi denyut utama kehidupan akademik. Namun, di negeri ini, praktik adu argumen yang sehat dan berbasis data kerap kali masih dianggap mengancam, memecah belah, bahkan memicu konflik personal. Perbedaan pendapat sering kali tidak dijawab dengan tulisan tandingan, melainkan dengan bisik-bisik di belakang, pembungkaman, atau bahkan upaya delegitimasi pribadi. Ini tentu menjadi ironi besar.

Padahal, dalam dunia akademik, head to head antaride adalah niscaya. Menyampaikan kritik berbasis data, argumen yang tajam, dan gagasan tandingan adalah bentuk tertinggi dari kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Sayangnya, sebagian besar pemangku kepentingan di bidang pendidikan belum cukup terbiasa dengan tradisi ini. Bahkan ada yang menganggap kritik sebagai ancaman terhadap kewibawaan, bukan sebagai pemicu refleksi dan perbaikan.

Sudah saatnya kita membangun kebiasaan baru: ketika ada tulisan yang mengkritik kebijakan pendidikan, jawabannya bukan dengan rasa tersinggung atau membalas secara personal, melainkan dengan tulisan lain yang lebih argumentatif. Itulah bentuk penghormatan tertinggi terhadap diskursus publik. Di sinilah para pemimpin pendidikan ditantang bukan hanya untuk mampu mengelola lembaga, tetapi juga mampu mengelola nalar dan emosi dalam ruang publik keilmuan. Budaya ini harus mulai ditanamkan dari institusi pendidikan: sekolah, kampus, lembaga pelatihan, hingga komunitas guru. Mahasiswa dan pelajar harus diajak berpikir kritis, bukan sekadar menghafal teori.

Guru dan dosen harus menjadi model bagaimana berdialog dalam perbedaan, bukan hanya menyampaikan kebenaran tunggal. Para pemimpin pendidikan, apalagi, harus membuka ruang partisipasi gagasan, bukan sekadar mencari afirmasi.

Dalam ekosistem pendidikan yang sehat, perbedaan pendapat bukanlah ancaman, tapi berkah. Sebuah bangsa besar tidak lahir dari barisan yang seragam pikirannya, tapi dari masyarakat yang mampu saling mengkritisi dengan cara yang santun, logis, dan argumentatif. Di sinilah pentingnya literasi nalar—kemampuan berpikir runtut, menyusun argumen, membaca data, dan menyampaikan pandangan secara elegan.

Jika budaya semacam ini tumbuh subur, maka pendidikan kita akan menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya inovasi, pemikiran segar, dan kepemimpinan intelektual. Kita tidak akan takut pada kritik, tidak baper pada tulisan yang tajam, karena semuanya dimaknai sebagai bagian dari proses belajar bersama. Dan yang lebih penting lagi, masyarakat akan melihat bahwa dunia pendidikan memang dipimpin oleh orang-orang berjiwa besar, terbuka, dan mencintai ilmu.

Sebagaimana dikatakan di awal, pemimpin pendidikan adalah penentu arah. Tapi arah itu bukan hanya soal kebijakan administratif. Ia juga soal arah budaya berpikir, cara menyikapi perbedaan, dan kemauan untuk terus belajar. Seorang pemimpin pendidikan sejati adalah mereka yang tidak hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga membangun budaya intelektual yang kokoh.

Mari kita bangkit bukan hanya dengan slogan, tapi dengan keberanian membuka ruang diskusi, merayakan kritik, dan menumbuhkan semangat adu gagasan, bukan adu perasaan. Karena hanya dengan cara itu, kita bisa benar-benar menuju Indonesia Emas yang beradab dan tercerahkan.***

  • Penulis, Doktor Ilmu Pendidikan, Guru, Praktisi Pendidikan dan Hipnoterapis

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.