VISI | "Gurih"-nya Uang Hasil Meras TKA
Oleh Aep S. Abdullah
BAYANGKAN makan siang seharga miliaran rupiah. Bukan pesta kenegaraan, bukan juga perjamuan raja dan permaisuri, melainkan makan siang hasil meras Tenaga Kerja Asing (TKA). Inilah potret tragis birokrasi kita hari ini. Uang haram sebesar Rp8 miliar digunakan untuk keperluan konsumtif, termasuk makan siang, oleh oknum di Kementerian Ketenagakerjaan.
Total dana yang diselewengkan dalam kasus dugaan korupsi pemerasan terkait pengurusan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) mencapai Rp53,7 miliar selama periode 2019–2024. Angka ini bukan main-main. Ini bukan salah ketik. Ini fakta yang diungkapkan langsung oleh KPK.
Plh Direktur Penyidikan KPK, Budi Sukmo, bahkan menyebut dana itu dinikmati bersama-sama, dari pejabat struktural hingga Office Boy. Kita tidak sedang bicara soal pemerataan kesejahteraan, tetapi pemerataan uang haram. Ironi yang menggigit.
Lebih miris lagi, uang itu tidak digunakan untuk pembangunan atau program peningkatan kapasitas tenaga kerja, melainkan untuk "kegiatan non-budgeter" yang sebagian besar adalah konsumsi harian. Rasanya seperti menonton komedi gelap, di mana tawa justru datang dari tragedi.
Seorang teman saya bergurau, “Mungkin mereka pikir, kalau uang makan berasal dari korupsi, rasanya jadi lebih gurih.” Tentu itu hanya sarkasme. Tapi begitulah kenyataan yang kita hadapi. Pejabat yang seharusnya melindungi rakyat justru memperkaya diri, bahkan lewat jalur yang tak masuk akal: makan siang.
Kasus ini membuka mata kita, bahwa gaya hidup hedonis telah merasuki birokrasi hingga ke akar-akarnya. Hedonisme tak lagi milik selebritas dan konglomerat. Kini, pejabat negeri pun berlomba menjadi "sultan dadakan" dengan segala cara.
Dalam konteks ini, saya sepenuhnya setuju dengan langkah Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang memotong berbagai anggaran operasional untuk rapat, koordinasi, studi banding, hingga seminar. Terlalu banyak uang rakyat yang dibakar untuk kegiatan yang ujung-ujungnya cuma jadi ajang selfie dan belanja oleh-oleh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!