VISI | Dzikir
Ada dzikir yang terucap di lisan, ada pula dzikir yang bergetar dalam hati. Para kiai sepuh, seperti KH. Sahal Mahfudh dan KH. Maimun Zubair, sering mengajarkan bahwa dzikir yang paling kuat adalah yang dilakukan dengan kehadiran hati (khusyuk). Sebab banyak orang yang berdzikir tapi tidak sadar apa yang ia ucapkan.
Salah satu dzikir yang sering diwariskan para ulama adalah istighfar (memohon ampun). KH. Ahmad Dahlan dikenal tak lepas dari ucapan astaghfirullah, bahkan saat sedang naik becak, ia terus mengulangnya. Baginya, istighfar adalah jalan untuk membersihkan diri dari debu dosa yang menempel setiap saat.
Banyak orang bertanya, “Apa dzikir yang paling utama?” Jawabannya tergantung pada kebutuhan hatimu. Jika engkau butuh kekuatan, maka ucapkan: Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Jika sedang gelisah, bacalah laa haula wa laa quwwata illa billah. Jika ingin meraih cinta Allah, maka lantunkan laa ilaaha illallah sebanyak-banyaknya.
Namun, hal terpenting dalam dzikir bukanlah jumlahnya, melainkan kesadaran dan keistiqamahan. Dalam kitab-kitab hikmah, disebutkan bahwa satu dzikir yang keluar dari hati yang hadir lebih baik daripada seribu dzikir yang dilantunkan secara kosong.
Seorang sufi pernah berkata, “Jangan tinggalkan dzikirmu hanya karena engkau merasa belum ikhlas. Sebab dzikirmu yang belum ikhlas akan menuntunmu kepada dzikir yang ikhlas.” Dzikir adalah latihan batin yang panjang, bukan hasil instan.
Di berbagai pesantren salaf, para santri dibiasakan mengamalkan dzikir pagi dan petang, sholawat, dan wirid-wirid khas. Tujuannya bukan hanya menghafal, tapi menghidupkan ruh dan menyambungkan hati dengan langit.
Bahkan banyak ulama dahulu yang meninggal dunia dalam keadaan berdzikir. KH. Ahmad Rifa’i dari Kalimantan, dikisahkan wafat dengan lafaz ya Allah masih terdengar lirih dari mulutnya. Ini menunjukkan betapa dzikir telah menjadi bagian dari jiwanya yang paling dalam.
Dzikir bukanlah amalan eksklusif para kiai atau santri saja. Siapa pun bisa memulai, kapan pun dan di mana pun. Cukup ucapkan: Subhanallah, Alhamdulillah, atau Allahu akbar sambil merenungkan kebesaran-Nya. Awalnya sedikit, lama-lama menjadi kebutuhan jiwa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!