VISI | Dzikir
Oleh Aep S. Abdullah
DZIKIR, dalam bahasa Arab berarti "mengingat", namun dalam Islam ia bukan sekadar mengingat secara biasa. Dzikir adalah aktivitas hati dan lisan yang menjadi pintu menuju kesadaran tertinggi: bahwa Allah selalu hadir dalam setiap detik kehidupan kita. Di tengah kesibukan dunia yang semakin bising, dzikir adalah oase ketenangan, benteng ruhani yang menjaga hati tetap hidup.
Ada satu kisah hikmah dari seorang ulama besar, Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Suatu hari, seorang murid bertanya, “Wahai Syekh, amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Dzikir yang dilakukan terus-menerus, meski kamu dalam keadaan sibuk.” Murid itu keheranan, “Bahkan ketika berdagang atau bekerja?” Sang Syekh mengangguk, “Ya, sebab orang yang lisannya basah dengan dzikir, hatinya tidak akan pernah kosong dari Allah.”
Para ulama terdahulu tidak pernah memisahkan dzikir dari keseharian. KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, setiap selesai salat wajib, selalu berlama-lama dalam dzikir. Konon, sebelum fajar menyingsing, beliau sudah terdengar berdzikir dengan lembut di langgar kecil pesantren, menyebut Laa ilaaha illallah dengan penuh kekhusyukan.
Bagi mereka, dzikir bukan sekadar rutinitas ritual, tapi jalan hidup. Al-Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa dzikir adalah makanan ruhani. Jika tubuh butuh makan dan minum, maka hati butuh dzikir agar tidak mati. “Hati yang kering dari dzikir ibarat rumah kosong yang gelap,” tulisnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42). Ayat ini menjadi dasar bahwa dzikir tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
Rasulullah SAW pun memberikan contoh langsung. Beliau tidak pernah duduk atau berdiri, makan atau minum, kecuali menyebut nama Allah. Bahkan dalam kondisi sulit sekalipun, seperti di medan perang, lidah Nabi SAW tetap basah dengan dzikir. Ini mengajarkan kita bahwa dzikir adalah nafas orang beriman.
Ada dzikir yang terucap di lisan, ada pula dzikir yang bergetar dalam hati. Para kiai sepuh, seperti KH. Sahal Mahfudh dan KH. Maimun Zubair, sering mengajarkan bahwa dzikir yang paling kuat adalah yang dilakukan dengan kehadiran hati (khusyuk). Sebab banyak orang yang berdzikir tapi tidak sadar apa yang ia ucapkan.
Salah satu dzikir yang sering diwariskan para ulama adalah istighfar (memohon ampun). KH. Ahmad Dahlan dikenal tak lepas dari ucapan astaghfirullah, bahkan saat sedang naik becak, ia terus mengulangnya. Baginya, istighfar adalah jalan untuk membersihkan diri dari debu dosa yang menempel setiap saat.
Banyak orang bertanya, “Apa dzikir yang paling utama?” Jawabannya tergantung pada kebutuhan hatimu. Jika engkau butuh kekuatan, maka ucapkan: Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Jika sedang gelisah, bacalah laa haula wa laa quwwata illa billah. Jika ingin meraih cinta Allah, maka lantunkan laa ilaaha illallah sebanyak-banyaknya.
Namun, hal terpenting dalam dzikir bukanlah jumlahnya, melainkan kesadaran dan keistiqamahan. Dalam kitab-kitab hikmah, disebutkan bahwa satu dzikir yang keluar dari hati yang hadir lebih baik daripada seribu dzikir yang dilantunkan secara kosong.
Seorang sufi pernah berkata, “Jangan tinggalkan dzikirmu hanya karena engkau merasa belum ikhlas. Sebab dzikirmu yang belum ikhlas akan menuntunmu kepada dzikir yang ikhlas.” Dzikir adalah latihan batin yang panjang, bukan hasil instan.
Di berbagai pesantren salaf, para santri dibiasakan mengamalkan dzikir pagi dan petang, sholawat, dan wirid-wirid khas. Tujuannya bukan hanya menghafal, tapi menghidupkan ruh dan menyambungkan hati dengan langit.
Bahkan banyak ulama dahulu yang meninggal dunia dalam keadaan berdzikir. KH. Ahmad Rifa’i dari Kalimantan, dikisahkan wafat dengan lafaz ya Allah masih terdengar lirih dari mulutnya. Ini menunjukkan betapa dzikir telah menjadi bagian dari jiwanya yang paling dalam.
Dzikir bukanlah amalan eksklusif para kiai atau santri saja. Siapa pun bisa memulai, kapan pun dan di mana pun. Cukup ucapkan: Subhanallah, Alhamdulillah, atau Allahu akbar sambil merenungkan kebesaran-Nya. Awalnya sedikit, lama-lama menjadi kebutuhan jiwa.
Akhirnya, dzikir adalah jalan untuk mengenal Allah, memperkuat iman, menenangkan hati, dan membersihkan jiwa. Dalam dunia yang penuh kegaduhan, dzikir adalah pelabuhan yang tenang. Ia tak hanya membasahi lidah, tapi juga menumbuhkan cahaya dalam hati.
Dan cahaya dari dzikir itulah yang akan menerangi hidup kita—di dunia dan akhirat. Wallahu'alam.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!