VISI | Dilarang Jujur dan Pintar
Oleh Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. JabarÂ
ADA kegelisahan yang tidak bisa lagi disembunyikan di ruang-ruang kelas kita. Kegelisahan yang pelan, tetapi menusuk. Kegelisahan yang lahir dari pertanyaan sederhana siswa, namun sulit dijawab dengan jujur tanpa melukai harapan.
“Pak… kenapa orang jujur dipermasalahkan?” “Kenapa orang pintar malah disingkirkan?”
Pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu. Ia adalah cermin. Cermin dari realitas yang mereka lihat setiap hari—di media sosial, di televisi, di ruang publik yang terbuka tanpa filter. Dan sebagai guru, kita sering kali terdiam.
Sejak dini, kita mengajarkan bahwa jujur adalah nilai utama. Kita berkata: jujur membawa ketenangan, jujur menghadirkan keberkahan, dan jujur adalah fondasi kepercayaan. Kita juga mengajarkan bahwa pintar adalah keharusan. Bahwa ilmu akan membawa kemajuan, membuka peluang, dan memperbaiki kehidupan. Di atas kertas, semuanya tampak sempurna. Jujur dan pintar adalah paket ideal. Namun masalahnya, realitas tidak selalu berjalan seindah teori.
Di luar kelas, siswa melihat sesuatu yang berbeda. Mereka melihat: orang yang bersuara jujur justru diserang, orang yang kritis dianggap mengganggu, dan orang yang kompeten malah disingkirkan. Tidak sedikit anak muda yang: cerdas, berintegritas, dan memiliki semangat membangun negeri justru harus berhadapan dengan sistem yang tidak ramah terhadap kejujuran. Ada yang dipinggirkan. Ada yang dipatahkan, bahkan dikriminalisasi. Lalu bagaimana kita menjelaskan ini kepada siswa?
Sebagai guru, kita berada di posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, kita harus tetap mengajarkan nilai. Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan. Jika kita hanya mengulang teori, siswa akan merasa kita tidak jujur. Jika kita terlalu terbuka, kita khawatir mematahkan semangat mereka. Inilah konflik moral yang nyata. Namun satu hal yang tidak boleh kita lakukan adalah berhenti mengajarkan kebenaran. Karena jika pendidikan menyerah pada realitas yang keliru, maka kita kehilangan harapan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!