VISI | Dilarang Jujur dan Pintar
Perbaikan harus dilakukan dari dua arah. Pertama, dari ruang kelas: guru perlu terus mengajarkan nilai dengan cara yang relevan, mengajak siswa berpikir kritis, bukan sekadar menerima, serta memberikan contoh nyata dalam sikap sehari-hari
Kedua, dari sistem: kebijakan harus melindungi kejujuran, bukan melemahkannya. Kompetensi harus menjadi dasar, bukan kedekatan. Kritik harus dilihat sebagai masukan, bukan ancaman. Tanpa perubahan sistem, pendidikan akan terus berjuang sendiri. Namun tanpa pendidikan, perubahan sistem tidak akan pernah terjadi.
Kita perlu mengembalikan makna dari dua kata ini. Jujur bukan sekadar berkata benar, tetapi berani berdiri di atas kebenaran. Pintar bukan sekadar tahu, tetapi mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan. Ketika keduanya bersatu, lahirlah manusia yang utuh. Dan manusia seperti inilah yang dibutuhkan bangsa.
Ini kegelisahan. Kegelisahan seorang guru yang tidak rela melihat pendidikan kehilangan arah. Kegelisahan seorang pendidik yang masih percaya bahwa perubahan itu mungkin. Kita tidak boleh berhenti mengajarkan kejujuran. Kita tidak boleh berhenti mendorong kecerdasan. Karena jika kita menyerah, maka yang tersisa hanyalah generasi yang pandai beradaptasi dengan kesalahan.
Ini bukan masa depan yang kita inginkan. Maka, di tengah semua kegaduhan ini, kita perlu menegaskan satu hal: jujur dan pintar bukan untuk dilarang, tetapi untuk diperjuangkan. Karena di situlah, masa depan bangsa dipertaruhkan.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!