VISI | Depresi
Oleh Aep S Abdullah
INDONESIA nampaknya tengah menghadapi peningkatan signifikan dalam jumlah kasus depresi. Angka terbaru menunjukkan bahwa sekitar 12 juta jiwa di negara ini terdampak gangguan kesehatan mental ini.
Gangguan ini sering kali muncul pada usia produktif. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di RSUD Tamansari Jakarta dr. Alfonsus Edward Saun, Sp.KJ yaitu antara 20-40 tahun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap tenaga kerja nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Dua kejadian pada pekan ini cukup menyentak kita. Tarsum, seorang suami di Ciamis tega memutilasi istrinya akibat mengalami depresi setelah usahanya dalam bidang peternakan colaps. Di Cicalengka, segerombolan anak muda menenteng senjata tajam membabi buta menyerang orang-orang disekitarnya secara acak. Sedikitnya, tujuh orang korban dilarikan ke rumah sakit Cicalengka. Beruntung, senjata api di kita tidak dijual bebas, kalau seperti di negara lain, bisa lebih banyak lagi korban akibat diserang orang yang sedang depresi.
Depresi, menurut para ahli kesehatan mental, merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam, hilangnya minat atau kesenangan dalam aktivitas sehari-hari, serta berbagai gejala fisik dan psikologis lainnya.
Diperkirakan 3,8 persen dari populasi global mengalami depresi, dengan jumlah mencapai lebih dari 280 juta jiwa secara keseluruhan.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus depresi di Indonesia meliputi tekanan ekonomi, sosial, dan budaya. Pandemi COVID-19 juga telah meningkatkan angka kasus gangguan jiwa dan depresi sebesar 6,5 persen di Indonesia, menurut data di Kementerian Kesehatan.
Gejala depresi dapat bervariasi, menurut para ahli, tetapi umumnya meliputi:
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!