VISI | Darurat Pemimpin Pendidikan

ED
Minggu, 22 Juni 2025 | 06:21 WIB
Bagikan
VISI | Darurat Pemimpin Pendidikan

Sudah saatnya para pemimpin daerah berani memasang badan. Menolak tekanan politik, menolak titipan, dan menolak sogokan jabatan. Kepala Dinas Pendidikan harus dipilih berdasarkan rekam jejak sebagai pendidik, bukan sebagai kolega politik. Kepala Sekolah harus berasal dari guru terbaik, bukan sekadar guru yang paling patuh dan berduit.

Regenerasi pemimpin pendidikan harus dibuka lebar-lebar. Jangan biarkan jabatan menjadi milik segelintir elite yang itu-itu saja. Semua guru hebat berhak mendapatkan kesempatan memimpin, selama ia memiliki kompetensi dan integritas. Jangan matikan harapan anak-anak muda yang mau bergerak dan membawa semangat perubahan.

Meritokrasi tidak mustahil diwujudkan. Indonesia punya segudang pendidik hebat yang menanti kesempatan. Kita hanya perlu sistem yang adil dan transparan: Seleksi jabatan secara terbuka, berbasis portofolio dan rekam jejak. Penilaian kinerja yang objektif dan berkelanjutan. Pelibatan komunitas pendidikan dan masyarakat dalam proses evaluasi. Pelatihan kepemimpinan pendidikan yang rutin dan bersifat transformasional.

Meritokrasi bukan hanya membuat organisasi lebih sehat, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang profesional. Guru akan lebih termotivasi, karena tahu bahwa kerja keras mereka bisa membawa mereka naik jenjang, bukan karena “siapa yang mereka kenal”, tetapi “apa yang mereka lakukan”.

Meski banyak kekecewaan, kita tak boleh putus asa. Di berbagai daerah, masih ada Kepala Sekolah yang memimpin dengan hati, membangun sekolah dari nol dengan semangat gotong royong. Masih ada pengawas yang rela mendampingi guru dari pagi hingga sore, bukan hanya datang untuk menilai. Masih ada Kepala Dinas yang memulai rapat dengan diskusi mutu pendidikan, bukan soal proyek. Mereka adalah contoh bahwa harapan itu nyata. Tugas kita hari ini adalah memperbanyak sosok seperti mereka, bukan menyingkirkan atau membungkamnya.

Kita butuh pemimpin pendidikan yang mengerti esensi pendidikan. Yang tidak hanya jago membuat surat edaran, tapi juga tahu betapa rumitnya membangkitkan semangat belajar di ruang kelas. Yang tidak hanya membagi anggaran, tapi juga tahu buku seperti apa yang paling tepat dibaca siswa di pedalaman. Yang tidak hanya menyuruh guru mengisi laporan, tapi juga duduk bersama guru untuk mendiskusikan nasib anak-anak.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.