Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Truk Masuk Jurang Cisarakan Sukabumi, Sopir Tewas 26 Aug 2026 Kabut Asap Karhutla Jambi Makin Pekat, Ganggu Kesehatan dan Sekolah 26 Aug 2026 SMA Taruna Nusantara Buka Rekrutmen P3 2026, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Truk Masuk Jurang Cisarakan Sukabumi, Sopir Tewas 26 Aug 2026 Kabut Asap Karhutla Jambi Makin Pekat, Ganggu Kesehatan dan Sekolah 26 Aug 2026 SMA Taruna Nusantara Buka Rekrutmen P3 2026, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

VISI | Bunda Literasi

ED
Jumat, 26 September 2025 | 05:27 WIB
Bagikan
VISI | Bunda Literasi

Oleh Drajat

KITA sudah paham betul bahwa maju mundurnya suatu negara ditentukan oleh literasi. Literasi bukan sekadar soal membaca dan menulis, tetapi kemampuan memahami, menganalisis, dan melahirkan gagasan yang bermanfaat bagi kehidupan. Negeri ini tentu menyadari hal itu, namun entah mengapa, kata literasi lebih sering hadir sebagai jargon manis ketimbang kenyataan yang mendarah daging.

Tengoklah hasil PISA (Programme for International Student Assessment). Lagi-lagi, Indonesia masih berada di barisan belakang, jauh tertinggal dari negara-negara tetangga. Membaca data ini seharusnya membuat kita tersadar bahwa literasi belum menjadi napas bangsa, belum merasuk dalam denyut kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, alih-alih melakukan refleksi mendalam, negeri ini justru larut dalam drama: menggelar acara literasi, membentuk komunitas literasi instan, bahkan melahirkan “tokoh literasi” yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Belakangan ini kita sering mendengar istilah “Bunda Literasi”. Gelar ini terdengar indah, seolah menjadi simbol keteladanan dan inspirasi. Namun, mari jujur pada nurani: apakah setiap orang yang disematkan gelar itu sungguh seorang literat? Apakah jejaknya nyata, menulis, membaca, mendampingi, atau sekadar menghadiri seremonial?

Sering kali kita dapati gelar itu diberikan begitu saja, terutama kepada para istri pejabat daerah: Ibu Bupati, Ibu Wali Kota, Ibu Gubernur, atau sejenisnya. Alasannya jelas: demi dukungan politik, demi memuluskan program, atau demi citra indah di depan publik. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, jejak literasi mereka nyaris tak terbaca. Tidak ada karya, tidak ada rekam jejak nyata, kecuali foto-foto acara dengan buku di tangan.

Apakah literasi sesederhana itu? Sejatinya, jika ada yang pantas disebut Bunda Literasi, mereka adalah para ibu yang telaten membimbing anak-anaknya membaca dan menulis di rumah. Mereka yang sabar menemani buah hati mengeja huruf demi huruf, merangkai kata demi kata, hingga akhirnya melek aksara.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.