VISI | Bangun Masjid Baru di Kampung: Solusi atau Masalah?
Oleh Achmad Dasuqi Mufied
MASJID adalah pusat ibadah, dakwah, dan persatuan umat. Ia bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kebersamaan serta wadah syiar Islam. Namun, bagaimana jika di satu kampung sudah ada masjid, lalu sebagian masyarakat ingin membangun masjid baru? Apalagi ketika alasan yang muncul bukan karena kebutuhan jumlah jamaah, melainkan karena persoalan tidak adanya transparansi kas masjid lama.
Masalah Awal: Minimnya Keterbukaan
Kas masjid adalah amanah umat. Setiap rupiah yang terkumpul berasal dari infak dan sedekah jamaah. Karena itu, transparansi adalah kunci kepercayaan. Jika laporan keuangan tidak jelas, jamaah merasa kecewa, bahkan curiga. Dari sinilah muncul ketegangan dan ide untuk mendirikan masjid baru sebagai bentuk “jalan keluar”.
Padahal, dalam Islam, Rasulullah ﷺ mengajarkan amanah dan keterbukaan. Allah pun berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58). Artinya, pengurus masjid wajib menyampaikan laporan keuangan secara jujur dan terbuka agar tidak menimbulkan fitnah.
Dampak Membangun Masjid Baru
Membangun masjid baru di satu kampung bisa membawa dua dampak:
- Dampak Positif: Ada semangat baru, manajemen lebih profesional, dan jamaah merasa lebih nyaman.
- Dampak Negatif: Bisa memecah belah persaudaraan. Masyarakat terkotak-kotak, sebagian ke masjid lama, sebagian lagi ke masjid baru. Padahal, Rasulullah SAW melarang umat terpecah belah.
Sejarah pun mencatat, masjid yang dibangun dengan niat memecah belah umat (Masjid Dhirar) justru dikecam oleh Allah SWT (QS. At-Taubah: 107-108).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!