VISI | Bangun Masjid Baru di Kampung: Solusi atau Masalah?

ED
Jumat, 17 Oktober 2025 | 06:30 WIB
Bagikan
VISI | Bangun Masjid Baru di Kampung: Solusi atau Masalah?

Oleh Achmad Dasuqi Mufied

MASJID adalah pusat ibadah, dakwah, dan persatuan umat. Ia bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kebersamaan serta wadah syiar Islam. Namun, bagaimana jika di satu kampung sudah ada masjid, lalu sebagian masyarakat ingin membangun masjid baru? Apalagi ketika alasan yang muncul bukan karena kebutuhan jumlah jamaah, melainkan karena persoalan tidak adanya transparansi kas masjid lama.

Masalah Awal: Minimnya Keterbukaan

Kas masjid adalah amanah umat. Setiap rupiah yang terkumpul berasal dari infak dan sedekah jamaah. Karena itu, transparansi adalah kunci kepercayaan. Jika laporan keuangan tidak jelas, jamaah merasa kecewa, bahkan curiga. Dari sinilah muncul ketegangan dan ide untuk mendirikan masjid baru sebagai bentuk “jalan keluar”.

Padahal, dalam Islam, Rasulullah ﷺ mengajarkan amanah dan keterbukaan. Allah pun berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58). Artinya, pengurus masjid wajib menyampaikan laporan keuangan secara jujur dan terbuka agar tidak menimbulkan fitnah.

Dampak Membangun Masjid Baru

Membangun masjid baru di satu kampung bisa membawa dua dampak:

  • Dampak Positif: Ada semangat baru, manajemen lebih profesional, dan jamaah merasa lebih nyaman.
  • Dampak Negatif: Bisa memecah belah persaudaraan. Masyarakat terkotak-kotak, sebagian ke masjid lama, sebagian lagi ke masjid baru. Padahal, Rasulullah SAW melarang umat terpecah belah.

Sejarah pun mencatat, masjid yang dibangun dengan niat memecah belah umat (Masjid Dhirar) justru dikecam oleh Allah SWT (QS. At-Taubah: 107-108).

Solusi yang Lebih Bijak

Sebelum mendirikan masjid baru, sebaiknya ditempuh langkah-langkah berikut:

  1. Musyawarah Jamaah: Kumpulkan warga, bahas masalah secara terbuka, dan cari titik temu.
  2. Audit Kas Masjid Lama: Bentuk tim independen untuk memeriksa kas masjid agar ada kejelasan.
  3. Perbaikan Sistem Manajemen: Terapkan laporan rutin, tempelkan di papan pengumuman, atau umumkan setiap Jumat.
  4. Membangun Kesadaran Amanah: Ingatkan bahwa mengurus masjid adalah tugas mulia, bukan untuk mencari kedudukan atau keuntungan.

Jika semua jalan sudah ditempuh, namun masalah tetap berlarut dan persatuan umat terancam, membangun masjid baru bisa menjadi pilihan terakhir. Tetapi, niatnya harus benar: bukan karena sakit hati, melainkan karena kebutuhan ibadah dan kebaikan umat.

Penutup

Masjid adalah rumah Allah, bukan milik pribadi atau kelompok. Ia seharusnya menyatukan, bukan memisahkan. Karena itu, transparansi dan amanah dalam mengelola masjid menjadi syarat mutlak agar jamaah tetap percaya. Jangan sampai semangat membangun masjid justru melahirkan perpecahan di tengah umat.*** Guwa Lor, 17 Oktober 2025

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.