VISI | Asyiknya Menjadi Guru
Di sinilah guru kembali menjadi sasaran. Peserta didik bertanya dengan jujur dan polos, “Pak, Bu, kenapa pejabat yang korupsi tidak apa-apa?” Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya berat. Guru tidak mungkin berbohong, tetapi juga tidak boleh meruntuhkan harapan. Guru harus menjelaskan dengan bahasa yang mendidik, bukan menghakimi, sambil menjaga agar api kepercayaan anak terhadap nilai kebaikan tidak padam.
MBG: Niat Baik yang Mengganggu Ruang Belajar
Belum selesai kegelisahan itu, dunia pendidikan kembali disibukkan dengan implementasi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Secara niat, program ini terdengar mulia. Siapa yang menolak anak-anak makan bergizi? Namun persoalannya bukan sekadar niat, melainkan pelaksanaan dan dampaknya terhadap proses belajar.
Guru menjadi pihak yang paling terdampak. Setiap hari, waktu belajar tersita. Mulai dari menerima, menata, membagikan, hingga menunggu peserta didik selesai makan. Tidak jarang 1 hingga 2 jam pelajaran hilang begitu saja. Materi tidak tersampaikan, diskusi terpotong, ritme belajar terganggu. Ironisnya, dana program ini pun dikabarkan bersumber dari APBN pendidikan yang sebelumnya telah disepakati. Artinya, ada pos lain yang dikorbankan.
Pertanyaan yang sering muncul di benak guru: sampai kapan seperti ini? Bukankah kita sedang mengejar Indonesia Emas 2045? Bagaimana mungkin generasi emas lahir dari ruang kelas yang tergerus oleh kebijakan yang tidak terukur dampaknya? Pendidikan bukan sekadar soal perut kenyang, tetapi juga soal akal yang tercerahkan dan karakter yang dibentuk.
Di tengah semua kegelisahan itu, mengapa masih ada guru yang bertahan? Mengapa masih ada senyum di ruang kelas? Mengapa masih ada guru yang datang lebih pagi, pulang lebih sore, dan tetap menyiapkan pembelajaran dengan sepenuh hati? Jawabannya sederhana sekaligus mendalam: karena menjadi guru, pada dasarnya, adalah pekerjaan paling asyik di dunia.
Asyik karena berhadapan dengan kepolosan. Peserta didik datang dengan wajah jujur, dengan rasa ingin tahu yang tulus. Mereka belum tercemar kepentingan, belum pandai bermanuver, dan belum lihai memutar fakta. Di hadapan mereka, guru belajar kembali tentang kejujuran dan kesederhanaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!