VISI | Asyiknya Menjadi Guru
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
NEGERI ini tidak sedang baik-baik saja. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan kesimpulan yang lahir dari pengamatan sehari-hari, dari percakapan di ruang kelas, dari berita yang berseliweran di layar gawai, hingga dari pertanyaan polos peserta didik yang sering kali membuat guru terdiam. Dari pemimpin pusat hingga daerah, seolah satu warna: sudah duduk lupa berdiri. Sudah sampai, lupa jalan pulang. Sudah berkuasa, lupa janji.
Janji-janji manis sebelum pemilihan perlahan menguap begitu kursi empuk diduduki. Yang dulu lantang membela rakyat, kini fasih membela kebijakan sendiri. Yang dulu mengaku sederhana, kini sibuk menjaga citra. Fakta diputarbalikkan, kebenaran dipinggirkan, dan hukum—lagi-lagi—tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Ironi ini bukan cerita baru, tetapi tetap menyakitkan setiap kali terulang.
Di tengah kondisi seperti itu, guru berada pada posisi yang serba sulit. Mengeluh salah, diam pun terasa berdosa. Dunia pendidikan menjadi ruang paling jujur untuk melihat wajah negeri ini. Kebijakan abu-abu datang silih berganti. Regulasi berubah sebelum benar-benar dipahami. Guru diminta adaptif, kreatif, inovatif, tetapi sering kali tanpa kejelasan arah dan dukungan yang memadai.
Pernyataan-pernyataan publik yang tidak logis kadang justru dilegalkan oleh kekuasaan. Ketika ada yang mengatakan sawit adalah pohon hutan, yang lebih mencemaskan bukan hanya kesalahannya, melainkan para pengikut yang mengiyakan tanpa nalar. Data disampaikan keliru, lalu dibenarkan ramai-ramai. Di sinilah krisis literasi menemukan bentuk paling nyata: bukan sekadar tidak bisa membaca teks, tetapi gagal membaca kebenaran.
Drama korupsi pun seolah menjadi tontonan rutin. Tidak ada lagi rasa malu. Wajah-wajah tersangka muncul di media dengan senyum tipis, seakan semua baik-baik saja. Penjara tidak lagi menakutkan, karena kekuasaan dan uang kerap menjadi selimut yang menghangatkan. Media sosial mempercepat penyebaran semua ini. Ketidakjujuran menjadi viral, dan ironi menjadi hiburan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!