VISI | AS Tak Lagi Dominan, Dunia Bergerak Menuju Tatanan Multipolar
Dukungan AS terhadap kebijakan genosida Israel, pengeboman fasilitas nuklir Iran, dan dukungan terhadap serangan Israel di Doha, Qatar (yang merupakan sekutu utama AS dan menjadi lokasi salah satu pangkalan udara terbesar AS di kawasan tersebut), menunjukkan bahwa AS tidak benar-benar beralih ke isolasionisme.
Pada saat yang sama, sekutu AS di Timur Tengah dan Asia Barat kini menyadari ketidakkonsistenan AS — terutama dukungannya terhadap ekspansi wilayah Israel, upaya menguasai wilayah udara Asia Barat, dan ambisinya menjadi hegemon kawasan. Sekutu-sekutu ini kemungkinan akan mencari alternatif jangka panjang di masa mendatang.
Kesepakatan yang dinegosiasikan Trump dengan Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Uni Eropa membuat negara-negara ini harus melakukan investasi besar di AS. Korea Selatan, misalnya, akan membangun kembali industri perkapalan AS. Negara-negara Eropa akan membeli gas alam AS dan membantu industrialisasi AS — dengan biaya ditanggung mereka sendiri.
Imperialisme AS yang Direstrukturisasi?
Semua ini terdengar seperti bentuk imperialisme AS yang direstrukturisasi, di mana AS mengekstrak surplus dari kliennya sebagai imbalan atas perlindungan. Namun, klien-klien ini kini mulai mempertanyakan “investasi paksa” tersebut yang terdengar seperti upeti wajib.
Dan berbeda dengan masa lalu ketika AS memegang kekuasaan unipolar, zaman telah berubah — opsi lain kini tersedia.
Pilihan itu adalah Tiongkok dan negara-negara BRICS, yang tengah membangun dunia multipolar tanpa pendekatan militer. Mereka mendorong perdagangan global yang adil tanpa tekanan maupun embargo.
- Anuradha Chenoy adalah Profesor Tamu di Universitas Global O. P. Jindal, Sonipat, Haryana, India.
- Artikel ini pertama kali diterbitkan di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!