VISI | AS Tak Lagi Dominan, Dunia Bergerak Menuju Tatanan Multipolar
Sebagian pembuat kebijakan AS berpendapat bahwa militer AS kelebihan beban secara global dengan terlalu banyak komitmen dan peperangan. Mereka merasa AS menanggung beban terlalu besar dalam perang Ukraina, dan saatnya berbagi tanggung jawab. Pendekatan ini mendorong kebijakan isolationism (mengasingkan diri). Pendukungnya termasuk Donald Trump, Wakil Presiden J.D. Vance, kelompok America First/MAGA, basis pendukung Partai Republik, serta lainnya yang menentang intervensi militer AS di luar negeri.
Di sisi lain, kubu yang berseberangan — neokonservatif (neo-cons) — pernah mempengaruhi kebijakan mantan Presiden Joe Biden terkait Tiongkok dan multipolaritas. Beberapa pejabat dalam kabinet Trump saat ini juga berasal dari kelompok ini, seperti Marco Rubio dan Elbridge Colby. Think tank seperti Heritage Foundation, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), RAND Corporation, dan Atlantic Council juga mendukung pendekatan ini.
Mereka menyerukan untuk memperkuat NATO, meningkatkan aliansi di kawasan Indo-Pasifik, melanjutkan dukungan terhadap perang di Ukraina, menerapkan tekanan ekonomi terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingan strategis AS, serta menentang negara-negara otoriter. Intinya, ini adalah strategi pembendungan Tiongkok, mendukung Ukraina, dan membatasi BRICS serta forum anti-Barat lainnya.
Target yang Terus Berubah
Presiden Trump tampaknya menggunakan kedua strategi secara bersamaan, bergantian satu sama lain.
Ia menerapkan tarif terhadap lebih dari 100 negara, yang dipandang oleh sebagian sebagai tekanan ekonomi bermusuhan. Negara-negara tersebut saat ini sedang diversifikasi rantai pasokan dan perdagangan mereka untuk melindungi diri dari kebijakan AS yang tidak menentu.
Trump dan Vance memperingatkan negara-negara NATO di Eropa bahwa mereka harus meningkatkan pengeluaran pertahanan, serta membeli senjata dari AS untuk menopang perang Ukraina karena AS secara bertahap akan menarik diri. Presiden AS telah berdialog langsung dengan Presiden Putin di Alaska, dan Steve Witcoff, rekan dekat Trump, melakukan negosiasi dengan Rusia. Namun, mereka juga menjanjikan pengiriman lebih banyak rudal ke Ukraina.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!