"Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Ahli Gizi Ungkap Pilihan Sarapan yang Bantu Tingkatkan Energi Tubuh 5 Aug 2026 Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia 5 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura, Penentu Tiket Semifinal AFF 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Ahli Gizi Ungkap Pilihan Sarapan yang Bantu Tingkatkan Energi Tubuh 5 Aug 2026 Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia 5 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura, Penentu Tiket Semifinal AFF 2026 5 Aug 2026

VISI | Apa Kabar Literasi Lingkungan ?

ED
Jumat, 19 Desember 2025 | 06:15 WIB
Bagikan
VISI | Apa Kabar Literasi Lingkungan ?

Oleh Drajat

BELAKANGAN ini negeri tercinta kembali dilanda duka. Banjir bandang, longsor, tanah bergerak, dan musibah ekologis lainnya datang silih berganti di berbagai wilayah. Tangis korban, kehilangan harta, bahkan nyawa, menjadi pemandangan yang memilukan. Namun yang membuat duka ini terasa lebih dalam adalah satu kesadaran pahit: sebagian besar bencana itu bukan semata takdir alam, melainkan buah dari tangan manusia sendiri.

Hutan dibabat tanpa kendali. Daerah resapan air diubah menjadi lahan bisnis sesaat. Gunung dilukai, sungai dipersempit, rawa dikeringkan. Semua dilakukan atas nama pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan kepentingan jangka pendek. Ketika alam akhirnya “berbicara” lewat banjir dan longsor, manusia terkejut—seolah lupa bahwa alam punya hukum sebab-akibat yang tidak bisa disuap, tidak bisa dilobi, dan tidak bisa diputarbalikkan.

Di tengah duka itu, muncul ironi lain yang tak kalah menyakitkan. Anak-anak muda, komunitas sipil, relawan lingkungan, bergerak cepat. Mereka menggalang bantuan, membersihkan wilayah terdampak, menanam kembali pohon, bahkan memberikan masukan kebijakan. Namun alih-alih dirangkul, sebagian justru dihambat, dicurigai, bahkan dikriminalisasi. Ada yang disebut cari panggung, ada yang dipersulit perizinannya, ada pula yang dituduh melanggar aturan.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: negara sedang takut kepada siapa? Kepada rakyat yang peduli, atau kepada kepentingan yang selama ini merusak alam? Dari titik inilah pertanyaan klasik kembali mengemuka, sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah sering ditulis, dibicarakan, bahkan dijadikan jargon: Apa kabar

Gerakan Literasi Lingkungan?

Beberapa tahun terakhir, istilah literasi lingkungan kerap muncul dalam dokumen kebijakan, seminar pendidikan, modul sekolah, hingga pidato pejabat. Di atas kertas, konsepnya indah: menumbuhkan kesadaran ekologis, membangun sikap peduli alam, dan membentuk generasi yang ramah lingkungan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.