VISI | Apa Kabar Literasi Lingkungan ?
Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Literasi lingkungan sering kali berhenti pada spanduk, baliho, dan unggahan media sosial. Ia ramai diperbincangkan saat ada bencana besar, atau ketika ada sorotan internasional. Setelah itu, perlahan menghilang, kalah oleh isu politik, ekonomi, dan kepentingan elektoral.
Polanya mirip dengan literasi membaca. Ketika hasil PISA jeblok, semua pihak panik, berteriak, “Ayo hidupkan literasi!” Namun setelah euforia mereda, kebijakan kembali berjalan seperti biasa. Literasi tidak sungguh-sungguh menjadi kebutuhan, melainkan sekadar reaksi sesaat terhadap rasa malu kolektif. Padahal, jika literasi lingkungan benar-benar dijalankan secara konsisten, bencana hari ini seharusnya bisa diminimalkan, bahkan dicegah. Bukan berarti alam tidak akan pernah murka, tetapi kerusakan masif akibat ulah manusia bisa dikendalikan.
Kehilangan Arah
Dunia pendidikan sejatinya memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran ekologis. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi ruang pembentukan karakter dan adab—termasuk adab terhadap alam.
Sayangnya, pendidikan lingkungan di sekolah sering kali bersifat seremonial. Menanam pohon saat Hari Lingkungan Hidup, kerja bakti sesekali, lomba poster, atau proyek kecil yang tidak berkelanjutan. Setelah itu, peserta didik kembali menyaksikan realitas yang bertolak belakang: hutan ditebang secara legal, tambang dibiarkan menganga, sungai dikotori, dan pelaku kerusakan jarang tersentuh hukum.
Anak-anak menjadi bingung. Di kelas mereka diajarkan menjaga alam, di luar kelas mereka menyaksikan negara seolah membiarkan alam dirusak. Lebih ironis lagi, ketika peserta didik atau anak muda bersuara kritis, mereka justru dianggap mengganggu stabilitas, melawan arus, bahkan dicap subversif. Lalu bagaimana pendidikan bisa dipercaya, jika teladan yang diberikan oleh para pengambil kebijakan justru berlawanan dengan nilai yang diajarkan?
Alam Tidak Pernah Berbohong
Alam tidak pandai berpidato. Ia tidak menulis opini, tidak membuat konferensi pers. Tetapi alam selalu jujur. Jika hutan dirusak, ia akan membalas dengan longsor. Jika sungai dipersempit, ia akan meluap. Jika gunung dikeruk, ia akan runtuh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!