Indonesia Perkuat Keterampilan dan Perlindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja 25 Aug 2026 Bantu Padamkan Karhutla, Ilmuwan RI Temukan Pemadam Api dari Singkong 25 Aug 2026 1.356 Knalpot Brong Hasil Razia di Majalengka Bakal Disulap Jadi Monumen Maung 25 Aug 2026 Polri Salurkan Logistik dan Oksigen untuk Penanganan Karhutla 25 Aug 2026 Chelsea Menang 3-2 atas Fulham dalam Drama Lima Gol 25 Aug 2026 Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah 25 Aug 2026 Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan akibat Karhutla Berulang di Kalimantan 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Indonesia Perkuat Keterampilan dan Perlindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja 25 Aug 2026 Bantu Padamkan Karhutla, Ilmuwan RI Temukan Pemadam Api dari Singkong 25 Aug 2026 1.356 Knalpot Brong Hasil Razia di Majalengka Bakal Disulap Jadi Monumen Maung 25 Aug 2026 Polri Salurkan Logistik dan Oksigen untuk Penanganan Karhutla 25 Aug 2026 Chelsea Menang 3-2 atas Fulham dalam Drama Lima Gol 25 Aug 2026 Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah 25 Aug 2026 Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan akibat Karhutla Berulang di Kalimantan 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026

VISI | Akar Masalah Pendidikan Kita

Desi Rossilawati
Senin, 6 April 2026 | 14:06 WIB
Bagikan
VISI | Akar Masalah Pendidikan Kita

Oleh Drajat

SUATU hari di ruang kelas, seorang guru mengajar dengan penuh semangat. Materi disampaikan dengan runtut, metode sudah sesuai kurikulum, bahkan teknologi telah dimanfaatkan. Namun ketika pelajaran usai, satu pertanyaan muncul: berapa banyak yang benar-benar dipahami oleh siswa?

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan besar. Sebab, di banyak ruang kelas hari ini, kita menemukan fenomena yang sama: siswa hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara mental. Mereka duduk, mendengar, mencatat namun pikirannya melayang. Lebih jauh lagi, tidak sedikit yang mengalami kelelahan belajar, kehilangan motivasi, bahkan menunjukkan gejala tekanan psikologis.

Ironisnya, di saat kondisi ini terjadi, dunia pendidikan justru semakin gencar mendorong konsep pembelajaran mendalam (deep learning) sebuah pendekatan yang menuntut siswa berpikir kritis, reflektif, dan mampu mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita menuntut kedalaman berpikir, jika pikiran siswa sendiri sedang tidak baik-baik saja?

Pembelajaran mendalam pada dasarnya adalah konsep yang sangat ideal. Ia mengajak siswa untuk tidak sekadar mengetahui, tetapi memahami, merasakan, dan menginternalisasi pengetahuan. Namun dalam praktiknya, konsep ini sering kali terjebak dalam formalitas. Ia hadir dalam dokumen, tetapi tidak hidup di dalam kelas. Mengapa? Karena kita sering melupakan satu hal mendasar: belajar adalah proses psikologis, bukan sekadar akademik.

Siswa yang cemas, lelah, atau tertekan tidak akan mampu berpikir secara mendalam. Otaknya berada dalam kondisi bertahan, bukan berkembang. Namun yang terjadi di banyak sekolah justru sebaliknya. Ketika siswa tidak fokus, mereka ditekan. Ketika hasil tidak optimal, mereka diberi tambahan tugas. Ketika terlihat malas, mereka diberi label. Kita seolah lupa bahwa ketidakmampuan belajar sering kali bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena kondisi batin yang tidak siap.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.