VISI | 383 dengan 313 Award
Oleh Aep S. Abdullah
Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya; hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah.
Abu Bakar Sidiq
PAHLAWAN, kata Rasulullah, bukanlah orang yang berani meletakkan pedangnya ke pundak lawan, melainkan orang yang sanggup menguasai dirinya di kala ia marah.
Ungkapan ini muncul kembali dalam pikiran saya setelah beberapa kali bertemu Bupati Bandung H.M. Dadang Supriatna pada momen yang seharusnya dia marah, tapi tidak melakukannya. Ketika dia banyak mendapat serangan fitnah, dibully, bahkan dicaci, bisa dilewatinya dengan tabah dan tersenyum, tidak membalasnya. Ia matang sekali secara emosional dalam menghadapi beragam masalah yang menderanya.
"Kenapa tidak melakukan serangan balik kang?," tanya saya suatu ketika berada di ruang kerjanya.
"Ah, saya pasrahkan saja semuanya pada Alloh. Fabiayyi a'la irobbikuma tukadziban (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan)," ujarnya sambil tersenyum.
Fokusnya, nampaknya bekerja, bekerja dan bekerja. Ia selesaikan dengan terukur satu-satu persoalan yang merintangi rencana kerjanya. Dan, satu persatu janji politiknya yang tertuang dalam 13 program prioritas ia wujudkan. Banyak yang meragukan ia bisa menepati janji politiknya itu, namun tidak sampai tiga tahun ia bisa membuktikan janji politiknya. Ia bisa bekerja lebih dari 16 jam dan tidur hanya 2-3 jam saja. Dalam satu hari ia biasa melakukan pekerjaan sampai di tujuh titik yang harus dikunjungi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!