Untuk Kenyamanan Pengendara, Jembatan Cijeruk Direhab
Jembatan Cijeruk. /visi.news/ist
VISI.NEWS | BANDUNG - Belum genap setengah tahun sejak diresmikan, Jembatan Cijeruk yang menghubungkan Kecamatan Bojongsoang dan Baleendah, Kabupaten Bandung, kembali berhenti berdenyut. Sejak 22 April 2026, akses vital itu ditutup sementara. Arus kendaraan roda dua yang biasanya mengalir kini dialihkan, menyisakan tanya: mengapa jembatan baru harus diperbaiki begitu cepat?
Di atas kertas, jembatan ini digadang-gadang menjadi solusi kemacetan sekaligus penghubung strategis dua kawasan padat di Bandung selatan. Namun di lapangan, persoalan teknis justru muncul pada bagian krusial: geometri akses masuk dan keluar jembatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqwa, mengakui adanya kebutuhan penyesuaian tersebut. Menurut dia, penutupan dilakukan demi memastikan proses perbaikan berjalan optimal, terutama pada tahap pengecoran yang membutuhkan waktu dan kehati-hatian.
“Iya, saat ini ditutup dulu. Sampai kapannya, kami akan update lagi. Karena untuk ngecor itu kan perlu waktu satu bulan, kalau misalnya kurang nanti membahayakan,” kata Zeis.
Masalah geometri jalan bukan perkara sepele. Kemiringan yang tidak ideal, pertemuan elevasi yang kurang presisi, hingga lebar akses yang belum proporsional dapat memicu risiko kecelakaan, terutama di jam-jam sibuk. Dalam beberapa pekan terakhir sebelum penutupan, sejumlah pengguna jalan mengeluhkan manuver kendaraan yang terasa sempit dan kurang nyaman saat melintasi titik masuk jembatan.
Zeis menjelaskan, perbaikan ini bertujuan menyempurnakan fungsi jembatan sebagai jalur alternatif yang benar-benar layak. Ia menyebut konsep penataan akan dibuat serupa dengan kawasan Rancamanyar, yang dinilai lebih mampu mengakomodasi berbagai jenis kendaraan.
“Sehingga bisa mengakomodir seluruh kendaraan. Sekarang sudah bagus menjadi alternatif, tapi dilakukan perbaikan lagi untuk bagaimana memberikan lebih nyaman kepada masyarakat,” ujarnya.
Di balik pembangunan jembatan permanen ini, tersimpan cerita kebutuhan warga yang lama terabaikan. Sebelum proyek pemerintah digulirkan, masyarakat setempat mengandalkan jembatan swadaya—yang oleh pejabat disebut sebagai “jembatan liar”. Meski sederhana dan minim standar keselamatan, jembatan itu menjadi urat nadi aktivitas harian.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!