Umrah di Tengah Darurat: Kepergian Bupati Aceh Selatan Picu Ledakan Kritik Publik
Dampak dari polemik ini merembet ke ranah politik. Partai Gerindra, tempat Mirwan bernaung, memutuskan mencopotnya dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan. Sekjen DPP Gerindra, Sugiono, menyampaikan kekecewaannya dan menilai tindakan Mirwan tidak sejalan dengan sikap kepemimpinan yang dibutuhkan di daerah yang sedang dilanda bencana. “Sangat disayangkan keputusan yang bersangkutan,” katanya.
Di tengah derasnya kritik, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan mencoba meluruskan situasi dengan memberikan penjelasan resmi. Plt Sekda Aceh Selatan, Diva Samudra Putra, menyebut keberangkatan Mirwan dilakukan setelah kondisi daerah dianggap stabil dan seluruh korban banjir sudah tertangani. Ia menegaskan bahwa Mirwan telah meninjau lokasi terdampak dan menyalurkan bantuan di kawasan Trumon Raya sebelum berangkat. “Keberangkatan bupati dilakukan setelah melihat situasi umum yang sudah aman,” ujarnya, membantah bahwa bupati meninggalkan masyarakat saat bencana masih berlangsung.
Diva juga menuturkan bahwa penanganan bencana tetap berjalan dipimpin dirinya dan wakil bupati selama Mirwan berada di luar negeri. Ia memastikan warga yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing. Namun penjelasan ini belum cukup meredam kritik publik, yang masih mempertanyakan alasan seorang kepala daerah pergi ke luar negeri tepat ketika wilayahnya dalam status darurat hidrometeorologi.
Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi sorotan di Aceh. Perbedaan sikap antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, hingga partai politik membuat publik menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai prosedur izin ke luar negeri serta konsekuensi yang akan dihadapi Bupati Mirwan setelah kembali dari Tanah Suci. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!