Skandal Iklan BJB: Selain Ridwan Kamil, KPK akan Periksa Keterlibatan Pihak Lain 11 Aug 2026 Skandal Iklan BJB Rp223,6 Miliar, Empat Tersangka Dijebloskan RK akan Diperiksa Lagi 11 Aug 2026 Trump Tuntut Iran Bayar Kompensasi, Negosiasi Selat Hormuz Makin Rumit 11 Aug 2026 BMKG: Cuaca Bandung Selasa (11/8/2026) Cerah, Suhu hingga 31 Derajat 11 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Selasa 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Selasa 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Selasa 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Senin 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Skandal Iklan BJB: Selain Ridwan Kamil, KPK akan Periksa Keterlibatan Pihak Lain 11 Aug 2026 Skandal Iklan BJB Rp223,6 Miliar, Empat Tersangka Dijebloskan RK akan Diperiksa Lagi 11 Aug 2026 Trump Tuntut Iran Bayar Kompensasi, Negosiasi Selat Hormuz Makin Rumit 11 Aug 2026 BMKG: Cuaca Bandung Selasa (11/8/2026) Cerah, Suhu hingga 31 Derajat 11 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Selasa 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Selasa 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Selasa 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 11 Agustus 2026 11 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Senin 11 Agustus 2026 11 Aug 2026

Trump Tuntut Iran Bayar Kompensasi, Negosiasi Selat Hormuz Makin Rumit

ED
PN
Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:40 WIB
Bagikan
Trump Tuntut Iran Bayar Kompensasi, Negosiasi Selat Hormuz Makin Rumit

VISI.NEWSPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuntut Iran memberikan kompensasi kepada para korban serangan, konflik, dan tindakan penindasan yang menurutnya dilakukan Teheran.

Tuntutan tersebut menjadi syarat baru dalam pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.

Trump menyampaikan tuntutan itu pada Senin. Pernyataan tersebut muncul setelah Iran lebih dahulu meminta AS memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan serangan AS dan Israel terhadap Iran selama lebih dari lima bulan.

Melalui unggahan di media sosial, Trump mengatakan tuntutan kompensasi dari Iran akan dimasukkan ke dalam setiap pembicaraan yang dilakukan pemerintahannya.

“Ini adalah gagasan yang menarik karena sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran, bagi semua orang yang telah mereka tewaskan dan lukai parah akibat bom pinggir jalan serta berbagai konflik yang mereka lakukan,” kata Trump.

Trump juga mengatakan telah menginstruksikan para perwakilannya untuk menjadikan tuntutan tersebut sebagai bagian dari negosiasi mendatang.

Trump Singgung Korban Demonstrasi dan USS Cole

Selain korban konflik, Trump menyerukan pemberian kompensasi kepada keluarga korban tewas dalam demonstrasi anti-pemerintah di Iran.

Ia juga mengaitkan tuntutannya dengan serangan terhadap kapal perang USS Cole di Yaman pada Oktober 2000.

Serangan terhadap kapal perusak Angkatan Laut AS tersebut menewaskan 17 personel militer Amerika Serikat dan melukai lebih dari 30 orang.

Namun, tuduhan Trump mengenai keterkaitan Iran dengan kasus tersebut mendapat catatan penting. Berdasarkan penyelidikan FBI, serangan terhadap USS Cole dikaitkan dengan jaringan al-Qaeda, bukan Iran.

Tuntutan Trump itu muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali berada dalam kondisi tegang. Perselisihan mengenai kompensasi kini turut menjadi bagian dari perundingan yang lebih luas mengenai masa depan Selat Hormuz.

Iran Juga Tuntut Kompensasi dari AS

Sebelumnya, Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh tidak dapat dilakukan tanpa adanya sejumlah konsesi dari Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Washington harus memberikan kompensasi kepada Teheran atas kerusakan akibat perang.

Iran juga menuntut AS mencabut sanksi dan ancaman militer, menarik pasukannya dari kawasan Timur Tengah, serta melepaskan aset Iran yang dibekukan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan perundingan tidak dapat kembali dimulai selama apa yang disebutnya sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman masih berlangsung.

“Dari sudut pandang kami, selama pelanggaran terhadap nota kesepahaman belum berakhir dan AS belum memberikan kompensasi atas pelanggaran ketentuan nota tersebut, tidak ada kemungkinan untuk memulai kembali perundingan,” ujar Araghchi pada Minggu.

Iran sebelumnya juga menyatakan tengah mendekati kesepakatan dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, Teheran menegaskan pembukaan kembali jalur tersebut sepenuhnya masih bergantung pada terpenuhinya tuntutan mereka terhadap Washington.

Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk meningkatkan eskalasi apabila diperlukan.

“Kami tentu memiliki kemampuan itu jika kami ingin melakukannya,” ujar Trump.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan tindakan lebih lanjut, Trump mengatakan publik akan segera mengetahui langkah yang akan diambil pemerintahannya.

Trump juga mengklaim militer AS menguasai Selat Hormuz dan menyebut blokade yang dilakukan Washington tidak mungkin gagal.

“Kami telah menyapu ranjau di seluruh selat tersebut,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa AS menguasai selat itu sepenuhnya.

Meski demikian, Trump mengakui Iran masih memiliki kemampuan untuk menimbulkan gangguan di kawasan tersebut.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan diplomasi, tetapi juga menyangkut kekuatan militer dan keamanan jalur perdagangan internasional.

Blokade Berimbas ke Pasar Minyak

Ketegangan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz turut berdampak terhadap pasar keuangan dan energi.

Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Senin karena investor kembali meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Indeks Nasdaq dan S&P 500 sama-sama mengalami penurunan. Di sisi lain, harga minyak mentah AS melonjak sekitar 5 persen dan ditutup pada level 82,13 dollar AS per barel.

Sebelumnya, investor berharap tercapainya kesepakatan antara Iran dan Oman dapat menjadi jalan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz. Jika jalur tersebut kembali terbuka, pasokan energi global diharapkan lebih lancar sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap harga minyak.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan inflasi dan memengaruhi prospek kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Menurut laporan Reuters yang dikutip dalam informasi tersebut, ketidakpastian mengenai Selat Hormuz membuat pasar kembali mempertimbangkan risiko gangguan pasokan energi dalam skala global.

Pengamat Nilai Trump dan Iran Masih Bermanuver

Charles Kupchan, mantan asisten khusus Presiden AS Barack Obama, menilai pernyataan mengenai tuntutan kompensasi dari kedua pihak lebih banyak mencerminkan manuver politik daripada langkah menuju penyelesaian konkret.

Menurut Kupchan, baik Iran maupun pemerintahan Trump saat ini tampaknya tidak benar-benar akan memperoleh seluruh tuntutan yang mereka ajukan.

Iran, menurut dia, kemungkinan tidak mendapatkan kompensasi seperti yang diminta. Demikian pula Trump tidak akan memperoleh seluruh tuntutan kompensasi dari Iran.

Kedua pihak dinilai masih menggunakan tuntutan tersebut sebagai alat untuk memperkuat posisi masing-masing dalam negosiasi.

Meski demikian, Kupchan melihat adanya perubahan dalam pendekatan Trump. Menurutnya, Presiden AS tersebut tampaknya mulai bergeser dari ancaman eskalasi langsung menuju pendekatan yang lebih sabar dengan membiarkan tekanan ekonomi melalui blokade dan penutupan Selat Hormuz terus berlangsung.

Iran dan AS Sama-sama Membutuhkan Kesepakatan

Kupchan menilai pada akhirnya Iran dan Amerika Serikat tetap memiliki kepentingan untuk mencapai kesepakatan.

Iran membutuhkan akses untuk mengekspor minyak guna mempertahankan perekonomiannya. Di sisi lain, Trump juga menghadapi risiko politik apabila harga bahan bakar AS terus meningkat, terutama menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.

“Iran tidak akan bisa bertahan jika tidak mampu mengekspor minyaknya,” demikian penilaian Kupchan sebagaimana dikutip dalam materi tersebut.

Tekanan juga disebut datang dari sisi militer Amerika Serikat. Pentagon menghadapi perhatian terkait kondisi cadangan amunisi setelah konflik yang berlangsung.

Di pihak Iran, proses menuju kesepakatan juga tidak mudah. Penunjukan tokoh-tokoh garis keras untuk posisi penting militer berpotensi mempersempit ruang kompromi dan meningkatkan risiko respons Iran terhadap tindakan Amerika Serikat.

Kondisi tersebut membuat setiap langkah balasan dari Teheran berpotensi diperhitungkan secara hati-hati agar tidak memicu eskalasi yang lebih luas.

Selat Hormuz Jadi Titik Krusial

Perselisihan mengenai Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling krusial dalam hubungan AS-Iran.

Di satu sisi, Washington menginginkan tekanan terhadap Teheran tetap berjalan. Di sisi lain, Iran menjadikan pembukaan kembali jalur pelayaran sebagai alat tawar untuk memperoleh konsesi dari AS.

Persoalan semakin kompleks karena Selat Hormuz memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut dapat berdampak terhadap harga minyak, biaya transportasi, inflasi, dan perekonomian negara-negara yang bergantung pada pasokan energi melalui jalur tersebut.

Dengan munculnya tuntutan kompensasi dari Trump, sementara Iran juga mempertahankan tuntutan ganti rugi kepada AS, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat menjadi semakin penuh tantangan.

Untuk saat ini, kedua pihak masih berada dalam posisi tawar yang berseberangan. Namun, kebutuhan ekonomi dan tekanan politik yang sama-sama mereka hadapi dapat menjadi faktor yang pada akhirnya mendorong Washington dan Teheran kembali mencari titik kompromi.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.