Trump: "Damai atau Tragedi" bagi Iran Setelah Situs Nuklir Dibom
Iran juga mengajukan permintaan resmi kepada Dewan Keamanan PBB untuk menggelar sidang darurat. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, dalam suratnya menyebut serangan AS sebagai “agresi yang direncanakan dan tidak beralasan” serta menuntut pertanggungjawaban penuh dari Washington.
Sementara itu, Israel memuji langkah Trump. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut keputusan Trump sebagai tindakan berani yang “akan mengubah sejarah.” Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyatakan bahwa Trump telah membuktikan bahwa “Never Again” bukan sekadar slogan, melainkan kebijakan nyata.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan “keprihatinan mendalam” atas eskalasi berbahaya tersebut. Ia memperingatkan bahwa konflik dapat “segera di luar kendali” dan menimbulkan konsekuensi bencana bagi warga sipil, kawasan, dan dunia secara keseluruhan.
Kekhawatiran global akan kontaminasi radiasi pun mencuat, namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan belum terdeteksi adanya peningkatan radiasi di luar lokasi. Arab Saudi juga menegaskan bahwa tak ditemukan dampak radioaktif di wilayahnya maupun kawasan Teluk setelah serangan.
Pascaserangan, maskapai penerbangan internasional kembali menghindari wilayah udara Timur Tengah. Otoritas bandara Israel menutup sepenuhnya ruang udaranya, sementara maskapai El Al dan Arkia membatalkan semua penerbangan penyelamatan hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Trump menegaskan bahwa ia tidak bermaksud mengirim pasukan darat ke Iran, namun menyatakan bahwa "kesempatan unik" telah muncul untuk “menyetop selamanya” program nuklir Iran. Ia menambahkan bahwa para pejabat Israel telah memintanya menggunakan bom penghancur bunker GBU-57 untuk menghancurkan situs Fordow — bom seberat 14 ton yang hanya bisa dijatuhkan oleh pesawat siluman B-2 milik AS.
Langkah militer ini, menurut beberapa analis, dapat menjadi taruhan politik yang berisiko bagi Trump, yang sebelumnya berjanji akan menarik AS dari konflik asing yang mahal. Namun, Trump tampaknya telah membuat perhitungan bahwa ini adalah momen strategis untuk menetapkan posisi dominan AS di Timur Tengah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!