Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Trump: "Damai atau Tragedi" bagi Iran Setelah Situs Nuklir Dibom

ED
Minggu, 22 Juni 2025 | 17:01 WIB
Bagikan
Trump: "Damai atau Tragedi" bagi Iran Setelah Situs Nuklir Dibom

VISI.NEWS | TEL AVIVPresiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato khusus dari Gedung Putih pada Minggu dini hari waktu setempat, memperingatkan Iran bahwa negara tersebut menghadapi dua pilihan: "damai atau tragedi." Pidato ini disampaikan setelah militer AS melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran — Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Trump mengatakan bahwa situs-situs nuklir tersebut telah “dihancurkan secara total dan menyeluruh,” dan memperingatkan Teheran agar tidak membalas, dengan ancaman bahwa AS siap menyerang lebih banyak target “dengan presisi, kecepatan, dan keterampilan.” Dalam pidatonya, Trump menyebut serangan ini sebagai “momen bersejarah bagi Amerika Serikat, Israel, dan dunia.”

Serangan AS ini terjadi setelah lebih dari sepekan serangan Israel yang bertujuan melumpuhkan pertahanan udara dan fasilitas nuklir Iran. Trump mengonfirmasi melalui media sosial bahwa pesawat-pesawat AS telah menjatuhkan bom pada Fordow dan seluruhnya telah kembali dengan selamat. Ia juga menegaskan bahwa “Iran harus setuju mengakhiri perang ini sekarang.”

Organisasi Energi Atom Iran mengakui terjadinya serangan pada tiga fasilitas nuklir tersebut, namun menegaskan bahwa program nuklir mereka akan terus berjalan. Iran membantah tuduhan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut bertujuan untuk senjata dan bersikeras bahwa program mereka murni untuk kepentingan damai.

Sebagai tanggapan, Iran meluncurkan serangan balasan dengan rudal yang menghantam tiga wilayah di Israel, termasuk Tel Aviv. Laporan sementara menyebutkan sedikitnya 23 orang terluka. Televisi pemerintah Iran menyebut serangan ini sebagai “babak baru perlawanan terhadap penjajah Zionis.”

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding AS dan Israel telah melewati “garis merah besar” dan menyebut serangan sebagai pelanggaran berat terhadap Piagam PBB dan hukum internasional. Ia menegaskan bahwa Iran “menyimpan semua opsi” untuk membela kedaulatan dan rakyatnya, termasuk hak sah untuk membalas di bawah Pasal 51 Piagam PBB.

Iran juga mengajukan permintaan resmi kepada Dewan Keamanan PBB untuk menggelar sidang darurat. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, dalam suratnya menyebut serangan AS sebagai “agresi yang direncanakan dan tidak beralasan” serta menuntut pertanggungjawaban penuh dari Washington.

Sementara itu, Israel memuji langkah Trump. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut keputusan Trump sebagai tindakan berani yang “akan mengubah sejarah.” Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyatakan bahwa Trump telah membuktikan bahwa “Never Again” bukan sekadar slogan, melainkan kebijakan nyata.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan “keprihatinan mendalam” atas eskalasi berbahaya tersebut. Ia memperingatkan bahwa konflik dapat “segera di luar kendali” dan menimbulkan konsekuensi bencana bagi warga sipil, kawasan, dan dunia secara keseluruhan.

Kekhawatiran global akan kontaminasi radiasi pun mencuat, namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan belum terdeteksi adanya peningkatan radiasi di luar lokasi. Arab Saudi juga menegaskan bahwa tak ditemukan dampak radioaktif di wilayahnya maupun kawasan Teluk setelah serangan.

Pascaserangan, maskapai penerbangan internasional kembali menghindari wilayah udara Timur Tengah. Otoritas bandara Israel menutup sepenuhnya ruang udaranya, sementara maskapai El Al dan Arkia membatalkan semua penerbangan penyelamatan hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Trump menegaskan bahwa ia tidak bermaksud mengirim pasukan darat ke Iran, namun menyatakan bahwa "kesempatan unik" telah muncul untuk “menyetop selamanya” program nuklir Iran. Ia menambahkan bahwa para pejabat Israel telah memintanya menggunakan bom penghancur bunker GBU-57 untuk menghancurkan situs Fordow — bom seberat 14 ton yang hanya bisa dijatuhkan oleh pesawat siluman B-2 milik AS.

Langkah militer ini, menurut beberapa analis, dapat menjadi taruhan politik yang berisiko bagi Trump, yang sebelumnya berjanji akan menarik AS dari konflik asing yang mahal. Namun, Trump tampaknya telah membuat perhitungan bahwa ini adalah momen strategis untuk menetapkan posisi dominan AS di Timur Tengah.

Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan langsung dari AS akan memicu “perang habis-habisan” di kawasan. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman menyatakan siap melanjutkan serangan terhadap kapal AS di Laut Merah, yang sebelumnya dihentikan sementara dalam kesepakatan dengan Washington.

Dengan kedua pihak bersumpah untuk mempertahankan kepentingan dan wilayah masing-masing, prospek perang berkepanjangan di Timur Tengah kini berada di ambang kenyataan. Trump mengakhiri pidatonya dengan peringatan keras: “Pilihlah damai, atau hadapi tragedi yang jauh lebih besar.”

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.