TREN CHILDFREE | Perubahan Pandangan Indonesia Tentang Pernikahan dan Bayi
Bagaimana para pembuat kebijakan dapat menanggapinya?
Untuk mengatasi pergeseran demografi ini, Indonesia dapat mencontoh negara-negara lain yang telah berhasil menerapkan kebijakan untuk mengurangi biaya membesarkan anak.
Negara-negara seperti Swedia telah memperkenalkan sistem dukungan keluarga yang komprehensif, termasuk cuti orang tua, subsidi pengasuhan anak, dan pengaturan kerja yang fleksibel, yang telah membantu mempromosikan tanggung jawab pengasuhan bersama dan membantu pasangan untuk menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga.
Dengan mengadaptasi kebijakan serupa yang sesuai dengan konteks negara, Indonesia dapat mengurangi potensi dampak negatif dari tren ini dan mendukung pasangan dalam menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga mereka tanpa mengorbankan aspirasi keluarga mereka.
Sementara penurunan angka pernikahan di Indonesia dan meningkatnya aspirasi beberapa pasangan untuk tidak memiliki anak mencerminkan pergeseran norma sosial dan meningkatnya otonomi individu, tren ini juga menghadirkan tantangan yang harus diatasi oleh para pembuat kebijakan.
Meskipun ada kemajuan dalam pendidikan dan reformasi hukum, masih adanya pernikahan dini menyoroti kompleksitas norma budaya dan tekanan ekonomi yang terus membentuk demografi negara ini.***
- I Dewa Gede Karma Wisana adalah Direktur Lembaga Demografi, dosen ekonomi dan peneliti demografi, kependudukan, dan sumber daya manusia di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
- Diahhadi Setyonaluri adalah Kepala Program Pascasarjana Studi Kependudukan dan Ketenagakerjaan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
- Awalnya diterbitkan di bawah Creative Commons oleh 360info™.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!