TREN CHILDFREE | Perubahan Pandangan Indonesia Tentang Pernikahan dan Bayi
Gerakan ini telah mendapatkan daya tarik, khususnya di media sosial, di mana perdebatan baru-baru ini dipicu setelah seorang selebritas mengumumkan keputusannya untuk tetap tidak memiliki anak, yang menuai dukungan dan reaksi keras. Data Badan Pusat Statistik mengonfirmasi adanya peningkatan jumlah perempuan yang tidak memiliki anak, dari 7 persen pada tahun 2019 menjadi 8,2 persen pada tahun 2022. Ini adalah perempuan yang berada pada usia reproduksi yang tidak memiliki anak dan tidak menggunakan metode kontrasepsi apa pun.
Pergeseran ini telah memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan, yang memperingatkan bahwa tren tanpa anak dapat mengancam stabilitas demografi Indonesia dengan berkontribusi pada penurunan angka fertilitas yang lebih cepat.
Penting untuk membedakan antara penurunan angka fertilitas dan perubahan sikap terhadap pernikahan dan peran sebagai orang tua. Penurunan fertilitas sebagian besar disebabkan oleh keberhasilan program keluarga berencana yang mempromosikan ukuran keluarga yang lebih kecil — situasi yang telah diterima secara luas di seluruh masyarakat Indonesia.
Meningkatnya biaya membesarkan anak juga berkontribusi pada tren ini. Penundaan pernikahan kemudian menggeser usia saat perempuan melahirkan anak pertama mereka dari antara 20 dan 24 menjadi antara 25 dan 29, yang mencerminkan perubahan masyarakat yang lebih luas, termasuk perempuan yang memprioritaskan pendidikan dan karier sebelum memulai sebuah keluarga.
Tingkat pendidikan yang lebih tinggi, khususnya di kalangan perempuan, dikaitkan dengan penurunan angka pernikahan dan fertilitas. Seiring dengan meningkatnya pendidikan masyarakat, mereka cenderung menyadari biaya ekonomi dan pribadi dalam memiliki anak, yang menyebabkan terjadinya peralihan dari fokus pada jumlah anak ke kualitas pengasuhan.
Namun, di Indonesia, tren ini tidak terlalu kentara dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga mengalaminya. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan dalam bidang pendidikan saja mungkin tidak cukup untuk mendorong penurunan signifikan dalam tingkat fertilitas total, seperti yang terlihat di negara-negara Asia yang lebih maju. Mengingat keragaman Indonesia yang sangat luas, penting untuk mempertimbangkan faktor budaya dan kontekstual saat menganalisis hubungan antara pendidikan dan fertilitas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!