Transaksi Kripto Indonesia Naik Didominasi PEPE dan Bitcoin hingga Nasib Pasar Kripto
Pada siklus sebelumnya, Bitcoin mengalami fase konsolidasi selama 224 hari sebelum akhirnya melonjak. Jika pola ini kembali terulang, Bitcoin berpotensi mencapai level tertinggi sepanjang masa (ATH) pada akhir September 2024. Potensi lonjakan ini juga diperkirakan akan menarik minat investor retail, yang bisa mendorong permintaan lebih tinggi dan mendorong harga menuju level yang lebih tinggi.
"Bitcoin saat ini berada dalam tren bearish yang lebih besar, sebagaimana ditunjukkan oleh indikator Super Trend pada kerangka waktu 4 hari dan 2 hari. Level resistensi utama terletak di sekitar US$68.000, membentuk batas atas pola wedge yang melebar dan menurun. Resistensi lainnya berada di US$64.500 dan US$62.900, yang kini kembali berperan sebagai resistensi setelah penurunan harga baru-baru ini," analisa Fyqieh.
Di sisi dukungan, area kuat teridentifikasi di kisaran US$56.000 hingga US$57.000, dengan level dukungan tambahan di US$58.000 dan antara US$60.000 hingga US$61.000. Jika Bitcoin jatuh di bawah kisaran US$56.000–US$57.000, ini bisa memicu penurunan lebih lanjut menuju US$53.000 atau bahkan lebih rendah, tergantung pada kondisi pasar yang ada.
Meskipun penurunan harga Bitcoin di bawah US$60.000 menimbulkan kekhawatiran, analisis teknikal dan historis menunjukkan bahwa pasar mungkin masih dalam fase konsolidasi. Potensi lonjakan harga pada Oktober 2024, seiring dengan keputusan kebijakan suku bunga oleh The Fed, memberikan harapan bagi investor yang tetap optimis terhadap masa depan Bitcoin. Pergerakan harga dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi perhatian utama, terutama bagi mereka yang mencari peluang di pasar kripto yang dinamis ini.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!