Tinjauan Perilaku Koruptif dari Perspektif Teori Gunung Es

ED
Selasa, 17 Mei 2022 | 16:25 WIB
Bagikan
Tinjauan Perilaku Koruptif dari Perspektif Teori Gunung Es

Dari sisi lain kalau dicermati lebih dalam ada sesuatu yang menarik karena pelaku korupsi pada umumnya adalah orang yang terdidik bahkan menyelesaikan pendidikan dari perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka adalah orang – orang yang dinilai berprestasi makanya mereka diberikan kepercayaan untuk memegang amanah dan kewenangan. Namun sayangnya mereka tidak bisa memegang amanah yang dipikulnya, mereka tidak mampu menjalankan kewenangan sebagaimana mestinya. Padahal semakin besar amanah yang dipegangnya, maka semakin besar peluang untuk melakukan penyalahgunaan wewenangnya. Jadi penekanan sistem pendidikan maupun pelatihan saat ini harus banyak menekankan pada pendidikan karakter untuk mencetak manusia agar bisa memegang amanah, dan bisa menjalankan kewenangan sesuai peruntukannya. Sistem pendidikan ini harus mampu menggugah kesadaran di alam sadar maupun alam bawah sadar seseorang, bahwa setiap amal perbuatan yang dilakukannya akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan.

Dimana saat itu tidak akan ada lagi lawyer yang bisa dibayar untuk meringankan kasusnya. Tidak ada kewenangan yang bisa digerakan untuk merekayasa kasus. Tidak ada lagi jaringan yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan lobi – lobi agar terbebas dari hukuman. Meskipun sejatinya pendidikan karakter itu menekankan pada sikap yang benar bukan karena takut dengan hukuman, tetapi sikap yang benar ia lakukan karena memang itu yang harus ia kerjakan. Inilah belief, norma, keyakinan dan keteguhan untuk tetap berpegang teguh pada panggilan pengabdian sebagai sebuah kewajiban dari amanah yang ia emban.

Semoga para pakar pendidikan bisa duduk bersama untuk melakukan evaluasi sistem pendidikan selama ini. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk menemukan apa yang masih harus diperbaiki menuju kualitas pendidikan yang berkarakter, yaitu sistem pendidikan yang bisa membentuk watak yang tidak serakah dan tidak haus pujian serta sanjungan. Pola fikir dan pola sikap yang hedonis dan materialistis harus semakin dikikis agar kesuksesan tidak selalu didefinisikan dengan kekayaan dan harta yang berlimpah. Kekayaan yang sesungguhnya adalah kesederhanaan dalam menjalankan hidup yang penuh amanah, ketulusan dalam memberikan pelayanan yang terbaik buat rakyatnya, dan keteguhan hati untuk berpegang pada prinsip kebenaran dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.