Tinjauan Perilaku Koruptif dari Perspektif Teori Gunung Es

ED
Selasa, 17 Mei 2022 | 16:25 WIB
Bagikan
Tinjauan Perilaku Koruptif dari Perspektif Teori Gunung Es

Oleh  Dede Farhan Aulawi

DALAM tataran teoritis yang sangat ideal tentunya berharap agar tata kelola pemerintahan baik di pusat sampai ke daerah, bahkan sampai tingkat pemerintahan desa diharapkan dikelola dengan baik berdasarkan prinsip – prinsip tata kelola pemerintahan yang bersih (Good Goverment Governance). Persoalannya cita – cita luhur tersebut ternyata tidak mudah untuk diwujudkan. Banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah dari periode ke periode berikutnya tetapi hasilnya tetap saja belum bisa memuaskan. Hal ini terbukti dari rangkaian peristiwa korupsi yang sering terendus dan akhirnya terbongkar atau tertangkap.

Padahal berdasarkan teori Gunung Es (Iceberg Theory) yang disampaikan oleh Ernest Hemingway menyatakan bahwa sesuatu yang tampak di permukaan atau terlihat sebenarnya hanya sekitar 20 persen, sementara 80 persen tersebunyi di dalam laut. Teori ini sejatinya mengilustrasikan suatu fenomena dalam melahirkan konsep teori atau makna dalam kehidupan. Fenomena gunung es ini sangat relevan menjelaskan berbagai masalah kehidupan, termasuk maraknya perilaku korup yang nampaknya masih jauh dari harapan publik. Jadi kalau ada tindak pidana korupsi yang berhasil dibongkar, maka peristiwa yang tampak tersebut hanya 20% nya saja karena masih ada 80% potensi perilaku korup lainnya yang tidak tampak atau belum diketahui. Oleh karenanya semangat pemberantasan korupsi bisa dilakukan melalui pendekatan teori gunung es ini.

Seorang koruptor pun dapat dideskripsikan seperti gunung es. Apa yang nampak dari dirinya, misalnya melakukan korupsi anggaran, adalah permukaan saja. Mungkin tidak mudah melihat dibalik itu, misalnya bagaimana orang itu menjalankan gaya hidup hedonisnya, tuntutan kemewahan keluarganya, sanjungan dan pujian teman – teman dan tetangga karena “kemurahan hatinya”, peluang korupsi dari sisi tugas, tanggung jawaba dan kewenangannya, lingkungan sosial yang berkarakter “tahu sama tahu”, “saling pengertian”, dan lain sebagainya. Akhirnya seseorang melakukan tindakan koruptif tersebut dianggap dan merasa bukan sikap yang nista lagi. Mungkin dia menganggapnya hal yang biasa, lumrah bahkan mungkin sudah dianggap sebuah kebiasaan yang turun temurun.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.