Tim Gowes VISI.NEWS Menyusuri Jejak Islam Tertua di Solo
Dikisahkan bahwa tempat pemujaan tersebut kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Henis untuk digunakan sebagai sarana dakwah Islam. Setelah itu bangunan tersebut diubah fungsinya menjadi masjid. Namun terdapat pula versi lain yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Beluk terlebih dahulu memeluk Islam sebelum menyerahkan tempat tersebut kepada Ki Ageng Henis. Meski berbeda dalam detail cerita, kedua versi menunjukkan adanya proses peralihan budaya dan keagamaan yang berlangsung secara damai serta penuh kearifan lokal.
"Salah satu daya tarik utama Masjid Laweyan adalah bentuk arsitekturnya yang unik. Sekilas bangunan masjid ini memiliki kemiripan dengan bangunan kelenteng Jawa kuno, sehingga berbeda dari bentuk masjid modern yang banyak dijumpai saat ini. Keunikan tersebut menjadi bukti bagaimana proses akulturasi budaya terjadi dalam perkembangan Islam di Nusantara, " ungkap pria yang biasa disapa Edjon ini.
Ciri khas arsitektur Jawa, katanya, terlihat jelas pada bentuk atap masjid yang menggunakan model tajug bertumpang atau bersusun. "Atap Masjid Laweyan terdiri dari dua tingkat yang mencerminkan karakter arsitektur masjid-masjid tua di Jawa. Bentuk ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat makna filosofis yang berkaitan dengan perjalanan spiritual manusia menuju Sang Pencipta, " ungkap pegiat sejarah.
Bagian dinding masjid saat ini, katanya, tersusun dari batu bata dan semen. Menurut catatan sejarah, Edi menyebutkan, penggunaan batu bata sebagai material bangunan mulai berkembang di masyarakat sekitar abad ke-19. "Sebelumnya sebagian besar struktur bangunan masjid menggunakan bahan kayu. Jejak penggunaan kayu tersebut masih dapat ditemukan pada bangunan pelindung makam kuno yang berada di area kompleks masjid, " tandas Edi.
Selain nilai sejarah dan arsitekturnya, tata ruang Masjid Laweyan juga mencerminkan karakter masjid tradisional Jawa. Bangunan utama terbagi menjadi tiga bagian, yakni ruang induk sebagai tempat utama ibadah, serambi kanan yang dahulu diperuntukkan bagi jamaah perempuan, serta serambi kiri yang digunakan sebagai ruang tambahan untuk menampung jamaah saat salat berjamaah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!