Tim Gowes VISI.NEWS Menyusuri Jejak Islam Tertua di Solo

ED
Rabu, 17 Juni 2026 | 15:33 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS | SOLO Perjalanan tersebut bukan sekadar olahraga bersepeda jarak jauh, melainkan sebuah ikhtiar mengenali kembali akar sejarah yang telah membentuk identitas masyarakat Nusantara. Semangat kegiatan ini sejalan dengan pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang terkenal dengan ungkapan "Jas Merah" atau Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Sebab, dari sejarah manusia dapat belajar memahami asal-usul, nilai perjuangan, dan jati diri yang sesungguhnya.

Destinasi pertama yang dikunjungi Tim Gowes VISI.NEWS adalah Masjid Laweyan yang berlokasi di Jalan Liris No. 1, Belukan, Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Masjid yang berada di kawasan perkampungan tersebut tampak berdiri kokoh dan masih mempertahankan bentuk aslinya. Di sekitar kompleks masjid suasana kampung masih terasa kental, lengkap dengan warung-warung sederhana yang menjadi bagian kehidupan masyarakat setempat.

Menurut anggota Tim Gowes VISI.NEWS, Edi Sudjono, berdasarkan sejarah lisan yang berkembang di masyarakat, Masjid Laweyan diperkirakan berdiri pada tahun 1546 dan diyakini sebagai masjid tertua di wilayah Surakarta. "Keberadaan masjid ini bahkan disebut lebih tua dibandingkan sejumlah bangunan keagamaan penting yang kemudian muncul pada masa Kerajaan Mataram Islam dan Kasunanan Surakarta, " ungkapnya.

Sejarah Masjid Laweyan tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokoh penyebar Islam di tanah Jawa. Sebelum berfungsi sebagai masjid, lokasi tersebut dipercaya merupakan sebuah panggung atau tempat pemujaan agama Hindu-Jawa yang berada di bawah pengaruh Ki Ageng Beluk. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, terjadi pertemuan antara Ki Ageng Beluk dengan Ki Ageng Henis, seorang tokoh yang dikenal sebagai penyebar ajaran Islam.

Dikisahkan bahwa tempat pemujaan tersebut kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Henis untuk digunakan sebagai sarana dakwah Islam. Setelah itu bangunan tersebut diubah fungsinya menjadi masjid. Namun terdapat pula versi lain yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Beluk terlebih dahulu memeluk Islam sebelum menyerahkan tempat tersebut kepada Ki Ageng Henis. Meski berbeda dalam detail cerita, kedua versi menunjukkan adanya proses peralihan budaya dan keagamaan yang berlangsung secara damai serta penuh kearifan lokal.

"Salah satu daya tarik utama Masjid Laweyan adalah bentuk arsitekturnya yang unik. Sekilas bangunan masjid ini memiliki kemiripan dengan bangunan kelenteng Jawa kuno, sehingga berbeda dari bentuk masjid modern yang banyak dijumpai saat ini. Keunikan tersebut menjadi bukti bagaimana proses akulturasi budaya terjadi dalam perkembangan Islam di Nusantara, " ungkap pria yang biasa disapa Edjon ini.

Ciri khas arsitektur Jawa, katanya, terlihat jelas pada bentuk atap masjid yang menggunakan model tajug bertumpang atau bersusun. "Atap Masjid Laweyan terdiri dari dua tingkat yang mencerminkan karakter arsitektur masjid-masjid tua di Jawa. Bentuk ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat makna filosofis yang berkaitan dengan perjalanan spiritual manusia menuju Sang Pencipta, " ungkap pegiat sejarah.

Bagian dinding masjid saat ini, katanya, tersusun dari batu bata dan semen. Menurut catatan sejarah, Edi menyebutkan, penggunaan batu bata sebagai material bangunan mulai berkembang di masyarakat sekitar abad ke-19. "Sebelumnya sebagian besar struktur bangunan masjid menggunakan bahan kayu. Jejak penggunaan kayu tersebut masih dapat ditemukan pada bangunan pelindung makam kuno yang berada di area kompleks masjid, " tandas Edi. 

Selain nilai sejarah dan arsitekturnya, tata ruang Masjid Laweyan juga mencerminkan karakter masjid tradisional Jawa. Bangunan utama terbagi menjadi tiga bagian, yakni ruang induk sebagai tempat utama ibadah, serambi kanan yang dahulu diperuntukkan bagi jamaah perempuan, serta serambi kiri yang digunakan sebagai ruang tambahan untuk menampung jamaah saat salat berjamaah.

"Keunikan lainnya terlihat pada tiga lorong yang berada di bagian depan masjid. Ketiga lorong tersebut bukan sekadar akses masuk ke ruang utama, melainkan memiliki makna simbolis yang mendalam. Dalam tradisi setempat, tiga lorong itu melambangkan tiga tahapan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih bijaksana dan berakhlak mulia, " paparnya. 

Di dalam kompleks masjid juga terdapat sebuah sumur tua yang menyimpan cerita tersendiri. Menurut kepercayaan masyarakat, mata air sumur tersebut muncul dari bekas injakan kaki Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo yang terkenal dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Hingga kini sumur tersebut masih digunakan dan airnya dikenal tidak pernah kering meskipun wilayah sekitar mengalami musim kemarau panjang.

Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, kunjungan ke Masjid Laweyan bukan hanya perjalanan menuju sebuah bangunan tua, melainkan sebuah perjumpaan dengan warisan peradaban yang telah berusia hampir lima abad. Dari tempat inilah mereka memulai rangkaian perjalanan sejarah yang akan membawa mereka menyusuri berbagai situs penting di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Napak tilas yang didukung Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Bandung, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumatera Barat, PT. Pupuk Kujang, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Bandung, Diskominfo Kabupaten Bandung, Bapenda, PT. BPR Kerta Raharja, dan Perumda Tirta Raharja ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Di balik setiap batu bata, lorong, dan bangunan kuno terdapat nilai-nilai perjuangan, toleransi, serta kebijaksanaan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini. Seperti pesan Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Masjid Laweyan menjadi salah satu saksi bahwa perjalanan panjang peradaban Islam di Nusantara dibangun melalui proses yang damai, berbudaya, dan penuh hikmah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.