Tiga Founder Perempuan Buktikan Bisnis Bisa Jadi Penggerak Perubahan
"Sebenarnya Indonesia tidak kekurangan produksi. Kita kurang kualitas. Kenapa kurang kualitas? Karena petaninya belum mendapatkan insentif untuk menghasilkan produk sesuai standar ekspor," kata Margareta dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan DBS Foundation.
Sejak berdiri pada 2014, Java Fresh mendampingi petani kecil melalui pelatihan budidaya, sertifikasi internasional, sistem grading, hingga skema pembayaran yang dinilai lebih adil.
Saat ini perusahaan tersebut telah bermitra dengan sekitar 3.400 petani di Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Produk unggulannya berupa manggis telah dipasarkan ke lebih dari 25 negara.
Margareta mengatakan, pemberdayaan tidak berhenti pada petani. Java Fresh juga membangun enam packing house di kawasan pedesaan yang sebagian besar mempekerjakan perempuan lokal tanpa pengalaman kerja formal.
"Kalau bisa dibilang, 99 persen pekerja kami adalah perempuan yang nol pengalaman kerja, bahkan di usia 40 tahun. Jadi, Java Fresh menampung banyak sekali first jobber yang penuh semangat," ujarnya.
Melalui dukungan hibah DBS Foundation, Java Fresh kini mengembangkan riset untuk memperpanjang umur simpan manggis, memperkuat teknologi pascapanen, hingga menguji distribusi menggunakan kontainer laut guna menekan biaya logistik sekaligus membuka akses pasar global yang lebih luas bagi petani.
Digitalisasi Layanan Kesehatan
Sementara itu, DoctorTool hadir untuk menjawab tantangan pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. Co-Founder DoctorTool Elisa Yoshigoe Wijaya mengatakan, ketimpangan distribusi tenaga kesehatan serta tingginya beban administrasi menjadi hambatan yang masih dihadapi banyak fasilitas kesehatan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!