Tiga Founder Perempuan Buktikan Bisnis Bisa Jadi Penggerak Perubahan

ED
Minggu, 12 Juli 2026 | 08:11 WIB
Bagikan
Tiga Founder Perempuan Buktikan Bisnis Bisa Jadi Penggerak Perubahan

VISI.NEWSPertumbuhan bisnis selama ini kerap diukur dari besarnya keuntungan, jumlah pelanggan, atau valuasi perusahaan. Namun, bagi tiga perempuan pendiri social enterprise penerima DBS Foundation Grant Program, kesuksesan memiliki makna yang berbeda. Mereka memilih membangun bisnis yang tidak hanya bertumbuh secara ekonomi, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Ketiga founder tersebut adalah Co-Founder & CEO Java Fresh Margareta Astaman, CCO & Co-Founder DoctorTool Elisa Yoshigoe Wijaya, serta CEO KONEKIN Indonesia Marthella Sirait. Meski bergerak di sektor yang berbeda, mulai dari pertanian, kesehatan, hingga ketenagakerjaan inklusif, ketiganya memiliki visi yang sama, yakni menghadirkan solusi atas persoalan sosial melalui inovasi bisnis.

Komitmen tersebut sejalan dengan misi Bank DBS Indonesia sebagai purpose-driven bank melalui pilar keberlanjutan Impact Beyond Banking, yang mendorong pemberdayaan social enterprise agar mampu menjangkau lebih banyak masyarakat.

Pada 2024, DBS Group memperkuat komitmennya dengan mengalokasikan tambahan dana sebesar SGD 1 miliar untuk DBS Foundation selama 10 tahun ke depan. Pendanaan tersebut akan disalurkan ke enam negara operasional DBS, termasuk Indonesia.

Dalam DBS Foundation Grant Program 2025, sebanyak lima social enterprise asal Indonesia terpilih menerima hibah dengan total pendanaan mencapai SGD 850.000. DoctorTool dan KONEKIN menjadi penerima hibah tahun 2025, sementara Java Fresh telah menerima dukungan serupa pada 2024. Ketiganya terpilih setelah bersaing dengan ratusan proposal social enterprise dari berbagai negara.

Memberdayakan Petani hingga Menembus Pasar Ekspor

Bagi Margareta Astaman, perubahan bermula dari pertanyaan sederhana mengenai rendahnya daya saing ekspor buah segar Indonesia, padahal negara ini dikenal sebagai salah satu produsen buah terbesar di dunia.

Menurut Margareta, persoalan utama bukan terletak pada jumlah produksi, melainkan kualitas hasil panen yang belum memenuhi standar pasar internasional.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.