Thomas Djiwandono, Wajah Baru di Pucuk Pimpinan Bank Indonesia
- Di dunia jurnalistik sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993, lalu berlanjut sebagai jurnalis di Indonesia Business Weekly. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuknya ke dunia analisis ekonomi dan keuangan.
VISI.NEWS | JAKARTA - Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono resmi menapaki babak baru dalam kariernya setelah ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia periode 2026. Penunjukan ini menandai masuknya sosok berlatar belakang ekonomi, sejarah, dan kebijakan publik ke jajaran pimpinan bank sentral, mendampingi Gubernur BI Perry Warjiyo.
Lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972, Thomas—yang akrab disapa Tommy—bukan nama asing di lingkaran pemerintahan dan politik nasional. Ia sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan Indonesia sejak 18 Juli 2024, mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani dan kemudian Purbaya Yudhi Sadewa, bersama Suahasil Nazara.
Sebelum masuk kabinet, Thomas dikenal luas sebagai Bendahara Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sejak 2010 hingga akhir 2025. Perannya di partai politik tersebut membuatnya terlibat aktif dalam pengelolaan strategi dan keuangan organisasi politik nasional.
Dari sisi latar belakang keluarga, Thomas merupakan putra dari Sudrajad Djiwandono, Gubernur Bank Indonesia periode 1993–1998, serta Biantiningsih Miderawati Djojohadikusumo. Ia juga merupakan keponakan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Meski demikian, Thomas meniti karier profesionalnya di sektor swasta dan pemerintahan dengan rekam jejak panjang sebelum dipercaya menduduki jabatan publik strategis.
Pendidikan menjadi salah satu fondasi kuat dalam perjalanan kariernya. Thomas merupakan alumnus Kolese Kanisius Jakarta, kemudian meraih gelar Sarjana Sejarah dari Haverford College, Amerika Serikat, pada 1994. Ia melanjutkan studi dan memperoleh gelar magister di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University pada 2003.
Karier profesionalnya dimulai dari dunia jurnalistik sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993, lalu berlanjut sebagai jurnalis di Indonesia Business Weekly. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuknya ke dunia analisis ekonomi dan keuangan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!