Tekanan Global dan Domestik Bebani Pergerakan Rupiah
Nilai tukar rupiah./visi.news/ist.
“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS dan berencana untuk sepenuhnya menutup Hormuz,” ujar Lukman.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Jika terjadi gangguan di kawasan tersebut, pasar global biasanya merespons dengan meningkatkan permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS. Kondisi itu membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung tertekan.
Di saat yang sama, data manufaktur Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat posisi dolar.
“Penguatan dolar AS juga didukung oleh data manufaktur yang lebih kuat dari perkiraan. Perkirakan kisaran Rp17.800 - Rp17.900,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah saat ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan sentimen pasar global belum membaik, volatilitas nilai tukar diperkirakan akan tetap menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!