Tekanan Global dan Domestik Bebani Pergerakan Rupiah

Desi Rossilawati
Selasa, 2 Juni 2026 | 16:12 WIB
Bagikan
Tekanan Global dan Domestik Bebani Pergerakan Rupiah

Nilai tukar rupiah./visi.news/ist.

VISI.NEWS | BANDUNG - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa pagi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan sejumlah tantangan ekonomi dalam negeri. Pelemahan mata uang Garuda kali ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik internasional, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Rupiah tercatat melemah 54,50 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.859 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS. Pergerakan tersebut terjadi ketika indeks dolar AS kembali menguat dan mendekati level psikologis 100.

Menurut analis Bank Woori Saudara Rully Nova, salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah belum adanya kepastian mengenai penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.800 - Rp17.950 dipengaruhi oleh risiko geopolitik global adanya ketidakpastian kesepakatan penyelesaian konflik AS dan Iran yg berakibat index dolar naik mendekati 100 dan menaikkan ekspektasi kenaikan harga minyak,” jelas Rully dalam keterangannya dikutip, Selasa (2/6/20260.

Dalam konteks ekonomi global, potensi kenaikan harga minyak menjadi perhatian penting bagi Indonesia yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi tertentu. Ketika harga minyak dunia naik, tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi domestik berpotensi meningkat, yang pada akhirnya dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.

Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti sejumlah persoalan dalam negeri. Kondisi fiskal pemerintah, arah kebijakan ekonomi, serta proyeksi inflasi yang masih menjadi perhatian investor dinilai membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Pandangan serupa disampaikan analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah semakin besar setelah Iran menyatakan menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat dan berencana menutup Selat Hormuz.

“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS dan berencana untuk sepenuhnya menutup Hormuz,” ujar Lukman.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Jika terjadi gangguan di kawasan tersebut, pasar global biasanya merespons dengan meningkatkan permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS. Kondisi itu membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung tertekan.

Di saat yang sama, data manufaktur Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat posisi dolar.

“Penguatan dolar AS juga didukung oleh data manufaktur yang lebih kuat dari perkiraan. Perkirakan kisaran Rp17.800 - Rp17.900,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah saat ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan sentimen pasar global belum membaik, volatilitas nilai tukar diperkirakan akan tetap menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.