Teheran Siap Beri Konsesi Nuklir Jika Sanksi Dicabut, Ketegangan Iran–AS Masih Membara

ED
Senin, 23 Februari 2026 | 14:22 WIB
Bagikan
Teheran Siap Beri Konsesi Nuklir Jika Sanksi Dicabut, Ketegangan Iran–AS Masih Membara

VISI.NEWS | BANDUNG Pemerintah Iran menyatakan kesiapannya memberikan sejumlah konsesi baru terkait program nuklirnya dalam perundingan dengan Amerika Serikat, dengan syarat Washington mencabut sanksi ekonomi dan mengakui hak Teheran untuk melakukan pengayaan uranium. Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran menjaga jalur diplomasi tetap terbuka di tengah meningkatnya ancaman konflik militer di kawasan Timur Tengah.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa meski perbedaan kedua pihak masih tajam, terutama terkait mekanisme dan jadwal pencabutan sanksi, Teheran kini menawarkan proposal yang lebih fleksibel dibandingkan putaran perundingan sebelumnya. Dalam dua ronde pembicaraan terakhir, kedua negara dilaporkan masih berada di posisi yang berjauhan dan berisiko menuju konfrontasi terbuka.

Menurut pejabat tersebut, Iran bersedia mempertimbangkan pengiriman setengah dari stok uranium yang diperkaya tingkat tinggi ke luar negeri, mengencerkan sisanya, serta berpartisipasi dalam pembentukan konsorsium pengayaan uranium regional—sebuah gagasan yang beberapa kali muncul dalam diplomasi nuklir selama bertahun-tahun. Sebagai imbalannya, Iran meminta pengakuan resmi atas haknya melakukan “pengayaan nuklir untuk tujuan damai” serta pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini membebani perekonomian negara itu.

Selain itu, Iran juga menawarkan peluang bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk berpartisipasi sebagai kontraktor dalam proyek minyak dan gas di Iran.

“Dalam paket ekonomi yang sedang dinegosiasikan, Amerika Serikat juga telah ditawari peluang investasi yang serius dan kepentingan ekonomi nyata di industri minyak Iran,” kata pejabat tersebut.

Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut. Washington selama ini memandang pengayaan uranium di dalam wilayah Iran sebagai jalur potensial menuju pengembangan senjata nuklir. Iran berulang kali membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.

Perundingan kembali digelar awal bulan ini di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Iran sebelumnya mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan jika mendapat serangan.

Pejabat Iran itu menyebut pembicaraan terakhir menunjukkan masih adanya kesenjangan besar, namun peluang tercapainya kesepakatan sementara tetap terbuka.

“Putaran terakhir pembicaraan menunjukkan bahwa gagasan AS mengenai cakupan dan mekanisme pencabutan sanksi berbeda dengan tuntutan Iran. Kedua belah pihak perlu mencapai jadwal pencabutan sanksi yang logis,” ujarnya.

“Peta jalan ini harus masuk akal dan berbasis pada kepentingan bersama.”

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan ia berharap dapat bertemu dengan utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, di Jenewa pekan ini. Ia menilai masih ada “peluang yang baik” untuk solusi diplomatik. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai langkah Iran menawarkan konsesi baru merupakan strategi untuk mengulur waktu sekaligus menghindari serangan langsung. Behnam Ben Taleblu dari Foundation for Defense of Democracies menilai kepemimpinan Iran berusaha memanfaatkan perundingan untuk memperkuat fasilitas nuklir dan militernya sembari meredakan tekanan.

Isu paling sensitif dalam perundingan tetap pada tuntutan “nol pengayaan” dari Washington, yang ditolak keras oleh Teheran. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tahun lalu memperkirakan Iran memiliki lebih dari 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen—tingkat yang hanya sedikit di bawah ambang 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Penasihat dekat pemimpin tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan Iran siap membuka akses pengawasan luas bagi IAEA untuk membuktikan bahwa mereka tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun, lembaga tersebut telah berbulan-bulan meminta akses inspeksi ke tiga lokasi nuklir yang sebelumnya menjadi sasaran serangan Amerika Serikat pada Juni tahun lalu, menyusul kampanye pengeboman Israel selama 12 hari.

Selain isu nuklir, Amerika Serikat juga menuntut pembatasan rudal balistik jarak jauh Iran dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan. Iran menolak membahas program rudalnya, meski sumber diplomatik menyebut isu kelompok regional bukanlah “garis merah” bagi Teheran.

Pejabat Iran menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerahkan kendali atas sumber daya minyak dan mineralnya.

“Pada akhirnya, Amerika Serikat dapat menjadi mitra ekonomi bagi Iran, tidak lebih. Perusahaan Amerika selalu dapat berpartisipasi sebagai kontraktor di ladang minyak dan gas Iran,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan militer dan tekanan ekonomi, perundingan ini menjadi penentu apakah kedua negara dapat kembali ke jalur diplomasi atau justru melangkah menuju babak baru konflik terbuka di Timur Tengah. @kanaya

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.