TBC Jadi Ancaman Serius, Dokter Peringatkan Jangan Anggap Enteng Batuk Dua Minggu
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 22 Mei 2025 | 01:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Indonesia kini menghadapi krisis tuberkulosis (TBC) yang makin mengkhawatirkan. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus TBC terbanyak kedua di dunia setelah India.
Sepanjang 2024, tercatat 1.060.000 kasus TBC di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 134.000 jiwa. Data dari Kementerian Kesehatan RI juga menguatkan lonjakan tersebut. Dalam periode Januari 2024 hingga 17 Maret 2025 saja, kasus TBC telah mencapai 1.016.475 kasus dengan 23.858 kematian. Dari angka tersebut, sebanyak 161.055 kasus terjadi hanya dalam tiga bulan pertama 2025.
Tren ini menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sejak 2017, angka temuan kasus melonjak lebih dari dua kali lipat, dari 446.000 menjadi lebih dari satu juta kasus saat ini.
Menurut dokter spesialis paru RS Pelni, dr. Erlang Samoedro, lonjakan kasus ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga mencerminkan rendahnya kesadaran masyarakat akan bahaya TBC.
"Kadang pasien merasa batuk-batuk biasa, padahal sudah dua minggu lebih tidak sembuh. Ini seharusnya menjadi sinyal bahaya. Tapi justru sering diabaikan," jelasnya, Selasa (20/5/2025).
Tak hanya itu, tantangan terbesar lain adalah ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Proses penyembuhan TBC memerlukan waktu minimal enam bulan. Namun, banyak pasien menghentikan konsumsi obat saat gejala mereda.
"Begitu merasa sudah enakan, banyak yang berhenti minum obat. Padahal, kuman TBC belum sepenuhnya mati. Ini bisa membuat kuman jadi kebal obat dan makin sulit disembuhkan," tegas Erlang.
TBC bukan hanya penyakit individu. Dengan sifatnya yang sangat menular, penderita yang tidak tertangani dengan baik bisa menjadi sumber penyebaran di rumah maupun di ruang publik.
Ia mengatakan penularannya bisa terjadi ke anak, pasangan, atau bahkan orang di sekitar kita di kendaraan umum.
Erlang menekankan perlunya edukasi dan dukungan sosial yang kuat agar pasien bisa menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Tanpa penanganan serius, TBC akan terus menjadi ancaman bagi kesehatan publik di Indonesia. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!