Tarif Tol Naik, Mori Hanafi: Pengguna Membludak, Mengapa Tarif Tetap Naik?
Anggota Komisi V DPR RI Mori Hanafi./visi.news/ist.
Mori menegaskan bahwa dalam setiap proyek jalan tol, seluruh aspek bisnis telah dihitung sejak awal, mulai dari nilai investasi, masa konsesi, tarif, hingga proyeksi jumlah kendaraan yang akan melintas.
Karena itu, ia mempertanyakan mengapa pemerintah dan operator selalu menggunakan kenaikan tarif sebagai instrumen utama menjaga tingkat pengembalian investasi, sementara peningkatan pendapatan akibat melonjaknya volume kendaraan seolah tidak pernah menjadi variabel dalam evaluasi.
Sebagai ilustrasi, ia menyebut jika suatu ruas tol diproyeksikan dilintasi 25 ribu kendaraan per hari namun realisasinya mencapai 50 ribu kendaraan, maka pendapatan perusahaan otomatis meningkat jauh di atas asumsi awal.
"Kalau pengguna jalan sudah melampaui target yang dihitung saat investasi dilakukan, mengapa tarif masih harus naik?" katanya.
Menurut Mori, apabila pendapatan perusahaan sudah meningkat karena pertumbuhan trafik, pemerintah seharusnya dapat mempertimbangkan untuk menunda atau bahkan membatalkan penyesuaian tarif demi melindungi daya beli masyarakat.
Tak hanya soal tarif, Mori juga menyoroti pola pemberian masa konsesi jalan tol yang menurutnya menyimpan tanda tanya besar.
Ia membandingkan Jalan Tol Cikopo–Palimanan (Cipali) yang memiliki investasi sekitar Rp13,7 triliun dengan Jalan Tol Soreang–Pasirkoja (Soroja) yang nilai investasinya sekitar Rp1,7 triliun. Meski terdapat perbedaan investasi yang sangat besar, kedua ruas tersebut sama-sama memiliki masa konsesi sekitar 45 tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai transparansi dan dasar perhitungan penetapan masa konsesi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!