Tanker AS Terbakar Usai Diserang Kapal Tanpa Awak
Insiden tersebut tidak hanya melibatkan satu kapal. Kapal lain yang ikut terlibat dalam proses pemindahan muatan, yakni tanker berbendera Malta bernama Zefyros, juga terkena dampak serangan. Manajer kapal yang berbasis di Yunani melaporkan bahwa sebuah proyektil menghantam kapal tersebut pada malam yang sama. Meski demikian, seluruh 23 awak kapal Zefyros berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa adanya korban jiwa.
Serangan ini menambah panjang daftar insiden keamanan maritim di kawasan Teluk yang meningkat sejak memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sejak pecahnya perang tersebut, setidaknya 16 kapal tanker dan kapal komersial lainnya dilaporkan menjadi target serangan di wilayah perairan strategis tersebut.
Ketegangan yang terus meningkat membuat ratusan kapal komersial lainnya memilih untuk menurunkan jangkar dan menunda perjalanan mereka. Ancaman serangan dari Iran di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang membuat perusahaan pelayaran global berhati-hati. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang digunakan untuk mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Safesea Group menilai serangan terhadap kapal komersial seperti Safesea Vishnu harus menjadi peringatan serius bagi komunitas internasional. Dalam pernyataannya, perusahaan tersebut menekankan pentingnya perlindungan terhadap jalur pelayaran global.
“Serangan ini harus menjadi peringatan bagi pemerintah, otoritas maritim, dan komunitas internasional,” ujar perusahaan itu.
“Jalur pelayaran komersial tidak boleh berubah menjadi zona pertempuran.”
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh World Shipping Council yang menyebut sekitar 20.000 pelaut yang bekerja di kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Teluk saat ini menghadapi situasi keamanan yang sangat berbahaya dan penuh ketidakpastian.
Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pemerintahnya siap mengawal kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz apabila diperlukan. Namun hingga saat ini, Angkatan Laut Amerika Serikat masih menolak permintaan hampir setiap hari dari industri pelayaran untuk menyediakan pengawalan militer.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!