Syakieb Sungkar Pamerkan Karya Seni Erotis "Erotika" di Galeri Sika, Ubud, Bali
- Delapan perupa dari Jakarta dan Bali selain Syakieb, juga Goenawan Mohamad, Kemalezedine, Linkan Pelenewen, Aswino Aji, Wayan Upadana, Wayan Mandiyasa, dan Ketut Sumadi tampilkan karya seni di pameran bertema Erotika di Galeri Sika, Jl. Raya Sanggingan, Ubud, Bali, pada tanggal 8 - 23 Oktober 2022.
VISI.NEWS | BALI - Seni erotis atau erotika bukan genre yang cukup populer dalam seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Ada beberapa pelukis angkatan lama, seperti Basoeki Abdullah yang kerap melukis wanita telanjang, Affandi juga menghasilkan beberapa lukisan persetubuhan. Tahun 80-an Mochtar Apin cukup intens melukis wanita telanjang. Belakangan yang cukup sering melukis figur telanjang adalah Hendrik Lawrence dan Syakieb Sungkar. tidak mudah menetapkan pengertian seni erotis. Seni erotis membutuhkan justifikasi estetik dalam menggambarkan seksualitas. Seringkali justifikasi estetik ini yang dipakai untuk membedakan antara seni erotis dengan pornografi, yang sama-sama merepresentasikan seksualitas. Namun justifikasi estetik juga bukan hal yang mudah untuk ditetapkan. Seni rupa yang kompleks, berteori dan berwacana tentu dianggap berbeda dengan pornografi yang dinilai dalam satu dimensi: harmful, eksploitatif dan melihat seksualitas semata-mata sebagai obyek nafsu dan perempuan yang menjadi obyek. Perbedaan ini, tentu berangkat dari konstruksi normatif. Untuk itu 8 perupa dari Jakarta dan Bali yang terdiri atas Syakieb Sungkar, Goenawan Mohamad, Kemalezedine, Linkan Pelenewen, Aswino Aji, Wayan Upadana, Wayan Mandiyasa, dan Ketut Sumadi mengadakan pameran bertema Erotika di Galeri Sika, Jl. Raya Sanggingan, Ubud, Bali, pada tanggal 8 - 23 Oktober 2022.
Banyak jalan menciptakan seni erotis. Imajinasi seksual sangat personal, demikian pula seni sangat subyektif. Paduan kedua hal ini akan menghasilkan kemungkinan sangat beragam mengenai seni erotis, dari yang lamat-lamat merepresentasikan sampai yang eksplisit. Sampai saat ini “peperangan” antara erotika dan pornografi masih berlanjut, perbedaan antara pornografi dan erotika sepenuhnya retorik. Situasi ini menyulitkan terbangunnya batasan yang pasti mengenai erotika. Namun, sebaiknya memang begitu, pengertian yang sempit beresiko pada kebuntuan, Demikian pula estetika, selalu tidak tunggal.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!