Syakieb Sungkar Pamerkan Karya Seni Erotis "Erotika" di Galeri Sika, Ubud, Bali
Kentara pada karya Syakieb bahwa gambaran persetubuhan, dalam karya Passion (Studi Erotika) dikelola untuk menyusun aspek formal. “Studi” yang dimaksud tentu bukan mengenai metode lovemaking, melainkan bagaimana subject matter persetubuhan menjadi ekspresi artistik dengan mempertimbangkan aspek formal-visual. Ekspresi estetik menjadi lebih kuat dari pada aspek erotis. Pada karya Red Sofa, tampak ketelanjangan tubuh perempuan yang eksplisit. Bagi Syakieb, proses melukis perempuan telanjang dengan pose menantang merupakan pengalaman yang baru dan menarik baginya, dan hal itu langsung berkaitan dengan hasrat seksual, seperti yang diutarakannya, “Melukis telanjang bagi beberapa orang merupakan sublimasi dari hasrat seksual yang selama ini dipendamnya.” Dalam hal ini, proses melukis menjadi bagian penting dari karya Red Sofa, sebab Syakieb melihat secara langsung sang model telanjang—dan hanya berdua, dalam suasana yang boleh jadi intim.
Lebih lanjut dia berujar, “Akan ada pertanyaan apakah si artis akan terangsang ketika ia melukis nude.” Jawabannya tentu dapat dikembalikan pada Syakieb sendiri. Lukisannya Red Sofa sendiri, dengan gaya Realis Ekspresif, meredam aspek ketelanjangan sesungguhnya, menjadi lebih artsy. Karya Syakieb yang ketiga The Cat Family (Keluarga Kucing), berbeda, tampil surealis. Tampak keluarga aneh; kepala keluarga berupa sosok manusia dengan kepala kucing, dan sebelah kakinya seperti batang pohon. Sosok perempuan (istrinya?) tampak sedang hamil dengan janin berupa kucing. Sementara di lantai tampak seekor kucing yang terpotong dua dipisahkan oleh struktur belulangnya. Tak mudah dimaknai, namun juga memicu imajinasi mengenai seksualitas yang tersembunyi, yang “terlarang”, misalnya “selingkuh”?
Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang menampilkan dirinya hampir telanjang, pada pameran ini Linkan justru menampilkan sosoknya lengkap berpakaian. Sebagai satu-satunya perupa perempuan, Linkan sadar dia berada dalam “gerombolan” perupa laki-laki. Pose menjadi bagian penting dalam karya Linkan. Dengan kedua kaki mengangkang dan makan pisang, karya Linkan sangat asosiatif sekaligus menantang pandangan laki-laki. Dengan tidak tampil polos, dalam pameran erotika, Linkan juga menunjukkan sisi feministnya. Dia tentu sadar bagaimana sosok perempuan menjadi obyek dan eksploitasi hasrat seksual laki-laki. Dia juga sadar kerap hal tersebut juga menyebabkan banyak perempuan tidak nyaman dengan tubuhnya. Karya-karyanya selama ini menampilkan tubuh perempuan polos, adalah caranya agar perempuan dapat menghargai dan nyaman dengan tubuhnya sendiri. Namun Linkan juga sadar, risiko persepsi yang berbeda atau terbalik dari tatapan laki-laki pada lukisannya. Itu sebabnya pada karya ini, tanpa tampil polos, dengan gestur menantang—atau tepatnya menentang—, dengan warna-warna psychedelic menyolok dan Linkan memberi judul karyanya, I Intentionally Provoke You.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!